Nol Kilometer, Pulau Weh, Aceh : 17 – 20 Juli 2009

Alhamdulillah dan MasyaAllah, hanya dua kata itu yang berulang kali terucap saat gw bisa melihat dari dekat dan berada tepat di Tugu Nol Kilometer, Pulau Weh, dimana tugu ini berada di lokasi paling barat dari negeri Indonesia tercinta, negeri dimana gw lahir dan dibesarkan. Sekali lagi, Alhamdulillah Ya Allah …

tugu nol kilometer dari sisi barat ...

Tugu Kilometer Nol merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi 22,5 meter berbentuk lingkaran berjeruji. Semua bagian tugu ini dicat berwarna putih. Di bagian atas lingkaran ini menyempit seperti mata bor. Di puncak tugu bertengger patung burung garuda menggenggam angka nol. Sebuah prasasti marmer hitam menunjukkan posisi geografis tempat ini: Lintang Utara 05 54′ 21,99″ Bujur Timur 95 12′ 59,02″.

dikutip dari :

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/07/22/10025621/mengenal.titik.nol.indonesia

prasasti marmer

Awal mula pemrakarsa untuk pergi ke Tugu Nol Kilometer, sejauh yang gw tau, adalah rekan-rekan dari Setang Lebar Brotherhood. Komunitas ini bereksistensi di kota Medan, propinsi Sumatera Utara, dan kerap berkumpul di KFC Selecta tiap hari jumat malam atau di hari-hari lain sekiranya memang ingin berkumpul. Komunitas ini tidak mengenal perbedaan jenis kendaraan roda dua dari anggotanya, namun yang unik dan sesuai dengan nama komunitasnya adalah bahwa kendaraan roda dua anggota dari komunitas ini menggunakan setang atau handle bar yang lebar atau serupa dengan yang digunakan oleh kendaraan roda dua jenis Trail.

Selewat pembicaraan lebih lanjut dengan beberapa rekan, menghubungi rekan-rekan lain di luar daerah, serta pembicaraan lain dengan rekan-rekan di luar komunitas Setang Lebar Brotherhood, akhirnya terkumpullah satu kelompok besar yang jika tidak salah adalah sebanyak sekira 30 orang, yang menaiki 23 motor dari berbagai jenis serta sebuah mobil yang sedianya akan dijadikan safety car selama perjalanan nanti.

Adapun komunitas-komunitas yang tergabung dalam rombongan ini tercatat adalah :

  • Setang Lebar Brotherhood
  • Yamaha Scorpio Club Semarang (diwakili oleh oom Bayu)
  • Yamaha Scorpio Fans Club Medan (diwakili oleh oom Flans)
  • Mailing List Yamaha Scorpio (diwakili oleh oom Mufron, oom Boy Hendra, dan gw sendiri)
  • Honda Tiger Club Medan

Jum’at, 17 Juli 2009

Sepulang bekerja seperti biasanya, gw segera menuju ke rumah dinas tempat gw tinggal dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk perjalanan. Dalam perjalanan kali ini gw tidak menggunakan kendaraan roda dua seperti biasa, tapi gw akan menggunakan mobil yang berstatus sewaan guna mengangkut barang-barang bawaan dari rekan-rekan dalam rombongan atau mungkin juga keperluan lainnya. Tapi selain itu pula, gw turut membawa jaket, sarung tangan, masker muka, helm, serta sepatu yang mungkin akan dibutuhkan jika ada rekan yang letih dan ingin digantikan membawa motornya dalam perjalanan nanti. Sip, persiapan sudah beres. Kedua rekan gw yang non bikers dan nantinya mungkin akan bergantian dalam mengendarai mobil pun sudah siap untuk berangkat.

Kami berkumpul di titik kumpul yang telah disepakati sebelumnya yaitu di sebuah SPBU di seberang Hotel Emerald. Karena ada kemungkinan bahwa mobil yang kami kendarai akan mengalami kesulitan dalam perjalanan keluar dari kota Medan yang cukup macet di sore hari, akhirnya gw dan rekan-rekan di mobil pun berangkat terlebih dahulu  pada sekitar pukul 18.00 WIB dengan perjanjian akan berjumpa kembali nanti di Langsa, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari kota Medan.

Mobil yang kami kendarai pun mulai melewati beberapa kota kecil selepas kota Medan, tercatat adalah Stabat, Binjai, Pangkalan Brandan, Pangkalan Susu, Besitang, dan lain-lain, sehingga sampailah kami di Langsa. Disini kami berhenti untuk menunggu rekan-rekan bikers yang lain di sebuah warung di seberang SPBU selepas Langsa. Namun setelah menunggu lama, hanya satu orang yang muncul menemui kami, yaitu oom Boy Hendra. Wah yang lain kemana?. Karena anggota rombongan lain sulit dihubungi, akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Lhokseumawe yang berjarak sekitar 170km dari Langsa.

Tak berapa lama, gw menerima telepon dari oom Bayu, beliau mengatakan bahwa rombongan baru saja mau masuk ke kota Langsa dan meminta kami untuk menunggu sebentar. Akhirnya kami kembali menunggu di sebuah SPBU kota kecil selepas Langsa yang bernama Idi. Setelah agak lama menunggu,  akhirnya terdengar deruman mesin dari rombongan motor yang kami tunggu. Dan kembali kami bergabung dalam rombongan besar menuju kota berikutnya, Lhokseumawe.

Sabtu, 18 Juli 2009

Selepas beberapa lama, salah seorang rekan, yaitu oom Bayu menemui kendala ngantuk dalam perjalanan. Karena gw sendiri juga kangen dengan perjalanan dengan motor di luar kota dan persiapan yang gw lakukan sudah cukup mantap, akhirnya gw menggantikan beliau selama perjalanan sampai ke Lhokseumawe dan beliau bisa beristirahat di dalam mobil yang dikendarai oleh rekan gw.

Akhirnya, gw bisa melepaskan kangen berkendara motor di luar kota dari Idi sampai ke Lhokseumawe, ugh nikmatnya menerjang angin malam di muka yang pas-pas-an ini di atas motor dengan kecepatan yang cukup tinggi, hihi.

Oh iya, dalam perjalanan antara Idi dan Lhokseumawe ini, salah satu rekan dari HTCM mengalami kecelakaan di sebuah tikungan tajam yang berupa perempatan. Gw sendiri lupa lokasi tepatnya di kota mana.

Sekitar pukul 04.00 WIB, sampailah kami di kota Lhokseumawe. Kami semua langsung menuju ke sebuah titik kumpul, yaitu di sebuah SPBU. Disana telah menunggu beberapa rekan dari Honda Tiger Aceh yang gw lupa menanyakan apa nama komunitasnya. Setelah beristirahat sejenak dan saling bertegur sapa, akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan. Nah, disinilah gw yang mengendarai mobil kembali terpisah dari rombongan, hehe. Ini dikarenakan gw dan rekan-rekan di mobil merasa kita harus mengejar keberangkatan kapal dari pelabuhan Banda Aceh pukul 10.00 WIB, dan mobil harus sudah sampai di pelabuhan tersebut sebelum pukul 08.00 WIB. Wah, kudu ngacir khan?.

Just info bagi para rekan yang ingin menyeberang ke pulau Weh dari Banda Aceh, kapal Ferry yang bertugas menyeberangkan kendaraan dan orang hanya berangkat 1x pada hari senin sampai dengan jum,at, dan 2x pada hari sabtu dan minggu. Jadwal keberangkatannya adalah pukul 10.00 WIB dan pukul 15.30 WIB (pada hari sabtu dan minggu). Kapasitas mobil yang bisa masuk ke dalam lambung kapal Ferry adalah sekitar 20 – 30 untuk mobil. Jika ada truk yang akan di angkut, maka kapasitas di atas akan semakin berkurang, dan truk pengangkut sembako untuk pasokan pulau Weh lebih diutamakan. Untuk motor, sepertinya tidak menemui kendala yang berarti dalam antrian menyeberang, karena gw melihat cukup banyak motor yang bisa di angkut dalam satu kali perjalanan kapal Ferry. Nah, gawat khan kalo melihat detail yang seperti ini?.

Saat ini, sekilas pandangan mata, entah jika ada detail tambahan lain yang tidak gw tahu, ada dua kapal Ferry yang dioperasikan disana, yaitu kapal Ferry yang bernama Aceh dan Palembang. Tersedia pula kapal cepat yang bernama Pulo Rondo yang dioperasikan oleh operator non ASDP, namun kapal cepat ini hanya bisa mengangkut penumpang saja dan berbiaya lebih besar dari kapal Ferry yang dioperasikan oleh ASDP.

Ternyata mobil yang kami kendarai baru sampai di Pelabuhan Ulee Lheue pada sekitar pukul 09.00 WIB setelah sebelumnya melalui Bireun, Sigli, dan perbukitan Seulawah. Kami terlambat dan akhirnya mobil kami tidak terangkut. Sedihnya. Kami akhirnya menunggu rekan-rekan bikers yang lain dan berangkat dengan kapal Ferry keberangkatan pukul 15.30 WIB nanti.

beberapa ratus meter sebelum masuk pelabuhan Ulee Lheue ...

gerbang pelabuhan Ulee Lheue ...

kantor pelabuhan, panas eui ...

kapal ferry dan kapal cepat ...

pulau weh di kejauhan ...

Sekitar pukul 14.00 WIB, rekan-rekan bikers datang, kami akhirnya bisa berkumpul kembali bersama-sama di pelabuhan. Disini gw mendapatkan cerita bahwa salah satu rekan bikers dari Setang Lebar Brotherhood mendapatkan kecelakaan di daerah Sigli karena motornya menabrak motor penduduk di sana yang tiba-tiba nyelonong keluar dari gang perkampungan. Mungkin karena daerahnya relatif sepi, maka kelakuan seperti ini kerap gw dengar juga di beberapa daerah lain.

Oh iya, sempat pula berkunjung ke bengkel orang nomor satu komunitas YSAC lho, dan di sambut dengan ramah oleh rekan-rekan disana. Serta janji pada saat pertemuan IMSI dulu dengan oom Satya YSAC akhirnya bisa gw penuhi, meski gw start dari Medan, tidak dari Jakarta, hehe.

Akhirnya, dengan bantuan bapak Sohar, nahkoda kapal yang ternyata juga seorang bikers, kami semua bisa terangkut di kapal Ferry keberangkatan sore itu. Lega banget rasanya. Di saat itulah, di atas kapal Ferry bernama Palembang gw baru bisa menikmati pemandangan selepas kapal lepas dari pelabuhan. Angin laut yang cukup kencang menerpa wajah sambil memandang rekan-rekan bikers yang tergeletak keletihan di atas dek kapal, sementara beberapa rekan lain bercanda-ria saling menghibur diri atau sekedar berphoto-photo ria. Selang sekitar 2 jam terapung dan meluncur di atas laut, akhirnya sampailah kami semua di pelabuhan Balohan, pelabuhan utama Pulau Weh. Alhamdulillah.

berphoto ramai-ramai di atas dek kapal ...

terlelap lelah, dan ada yang tetep narsis ...

menjelang pelabuhan balohan

Di daratan pulau Weh, kami di sambut langsung oleh kak Ita, beliau adalah kontak para bikers yang akan mengunjungi tugu Nol Kilometer dan akan menjadi pemandu kami selama berada di pulau Weh. Dan selanjutnya kami di antar beliau untuk mencari penginapan yang tepat untuk kami menginap malam itu. Wah mantab.

berkumpul di area parkir pelabuhan sebelum pisah ...

kak Ita (berhelm) yang menyambut kami semua ...

Oh iya, selepas pelabuhan, rombongan kami terpisah menjadi dua, rekan-rekan HTCM ternyata memiliki agenda tersendiri dalam jadwal mereka, begitu pun juga dengan kami rombongan gabungan Setang Lebar Brotherhood dan beberapa komunitas lain ini.

Kami sempat berkeliling mencari penginapan, makan malam bersama dengan bang Kidal – suami kak Ita yang memiliki usaha bengkel motor, seorang bikers, dan juga menjadi kontak para bikers yang berkunjung ke tugu Nol Kilometer -, dan akhirnya kami pun menginap di sebuah villa yang bangunan utamanya adalah sebuah rumah panggung di pinggir pantai yang sangat dekat dengan pantai Gapang. Dan menginaplah malam itu kami semua disana.

berphoto saat makan malam bersama ...

Minggu, 19 Juli 2009

Pagi hari tiba, villa yang kami tempati kebetulan berada dalam lingkungan yang banyak terdapat pohon besar dan cukup asri. Indahnya pagi ini dibangunkan oleh udara segar dan suara burung-burung di pepohonan, meski akhirnya terdengar derungan motor salah satu rekan yang memanaskan mesin motornya, hihi. Gw sendiri begitu bangun tanpa cuci muka atau gosok gigi langsung menghilang ke arah pantai, gw mau lihat seperti apa pantai di sekitar villa. Wah, ternyata mantab lho pemandangannya dan pantainya juga masih sangat bersih serta airnya tidak butek seperti pantai di pinggiran Jakarta, hihi. MasyaAllah … senang hati ini berada di alam terbuka pulau Weh.

suasana villa tempat menginap ...

suasana romantis di pantai dekat penginapan ...

Puas berkeliling, gw pun kembali ke penginapan, tapi belum sampai tujuan gw langsung di culik untuk sarapan pagi oleh oom Bayu dan beberapa rekan lain di pantai Gapang. Gw pesan nasgor dan segelas kopi Aceh, mantab, pagi yang sempurna. Tak lama, beberapa rekan lain pun datang menyusul kami sarapan pagi. Selepas gw sarapan, gw kabur ke villa untuk mandi, sementara rekan-rekan lain tetap di pantai Gapang sembari mereka sarapan dan menikmati suasana pantai.

pantai Gapang ...

Sekembalinya gw dari villa, gw pun kembali ke pantai Gapang. Ternyata rekan-rekan sudah bersiap menuju ke tugu Nol Kilometer. Mantab. Langsung meluncur. Tapi, gw disini melakukan hal di luar dari safety riding yang selama ini gw berlakukan ke diri gw sendiri. Gw tidak mengenakan pelindung selayaknya seorang biker yang safety di perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua. Maafkanlah daku.

kondisi jalan menuju tugu nol kilometer ...

Sesampainya di tugu Nol Kilometer, kembali dada ini berdesir sambil melantunkan ucapan terima kasih kepada Allah SWT, alhamdulillah .. alhamdulillah .. alhamdulillah .. akhirnya hamba-Mu yang lemah ini di pilih oleh-Mu ya Allah untuk bisa mengunjungi tugu Nol Kilometer, sebuah tempat yang menjadi salah satu impian terbesar di kepala untuk bisa dikunjungi selama beberapa tahun terakhir ini.

Kami sempat berphoto-photo sejenak di tugu Nol Kilometer, serta membuat photo dan video ucapan selamat ulang tahun sebagai hadiah kecil kepada MILYS (Mailing List Yamaha Scorpio), sebuah komunitas penyuka atau pemilik Yamaha Scorpio dimana gw bernaung dan mengikuti banyak kegiatan serta menggali dan menggila hobby. Happy New Year Milys … (Gelys mode : on …) … :-)

di depan tugu ...

narsis bersama ...

bersama di tonggak di bawah tugu ...

bersama oom Bayu ...

monumen buatan rekan-rekan bikers terdahulu ...

selamat ulang tahun Milys yang ke 5 ...

Sempat pula kami berphoto di pinggir tebing di samping tugu Nol Kilometer, serta memandang alam dan horison di lepas pantainya. Kembali gw berucap syukur kepada Illahi dan menyenandungkan kata ‘MasyaAllah’ beberapa kali, mengagumi keindahan salah satu ciptaan-Nya ini.

indahnya biru itu ...

berphoto mesra di pinggir tebing ...

Sepuasnya kami di tugu Nol Kilometer, kami pun kembali ke pantai Gapang. Sempat kami mampir ke sebuah warung yang menyediakan menu makanan ikan goreng yang nota bene ikannya adalah ikan laut. Mantab banget. Setelah kenyang, kami pun kembali meluncur menuju pantai Gapang.

Sesampainya di pantai Gapang, gw dan rekan-rekan langsung menjalankan agenda masing-masing untuk menikmati alam pantai tersebut. Gw sendiri, setelah diracuni oleh oom Bayu dan beberapa rekan lain, langsung menyewa set snorkling dan meluncur ke laut lepas untuk menikmati keindahan karang laut dan penghuninya di sekitar situ. Keren lho, bahkan oom Boy Hendra yang sebelumnya belum pernah melakukan kegiatan seperti ini berucap :

“.. segala siaran channel di televisi kalah indah deh sama pemandangan keren di bawah sana, gw sempet ketemu sama Nemo lho ..”, ujarnya antusias setelah wisata bawah air dan bertemu dengan ikan yang mirip dengan tokoh animasi di film Nemo.

dasar laut pantai Gapang ...

dasar laut pantai Gapang ...

dasar laut pantai Gapang ...

dasar laut pantai Gapang ...

oom Boy Hendra di bawah air ..

oom Bayu di bawah air ...

gw, lagi sosialisasi milys kepada penghuni bawah laut, hihi ...

Puas menikmati pantai dan air lautnya, kami bergegas kembali ke atas tunggangan masing-masing. Kami masih harus berburu penginapan untuk malam ini, sebab villa yang sebelumnya kami sewa hanya bisa ditinggali satu hari saja. Hiks, sedih.

Kami semua bergerak ke arah kota Sabang dan akhirnya menyewa kamar di hotel berbangunan tua. Lumayan lah untuk menginap malam itu. Lalu kami di ajak oleh oom Bayu untuk makan di rumah seorang kawannya yang berprofesi sebagai seorang guru di Sabang. Just info, oom Bayu ternyata pernah 5 tahun tinggal di Sabang semasa dia muda dulu, jadinya yah wajar beliau banyak kawan disana, hehe.

Selepas makan itulah permasalahan timbul. Gw dikabarkan oleh oom Bayu bahwa mobil tidak bisa di angkut kembali ke daratan Aceh besok pagi karena antrian di pelabuhan sudah sangat panjang, bahkan kemungkinan mobil baru bisa di angkut lusa nanti. Hiks, pusing.

Senin, 20 Juli 2009

Permasalahan untuk menyeberangkan mobil ke daratan Aceh akhirnya bisa terselesaikan dengan baik, Alhamdulillah. Atas berkat bantuan bang Kidal, oom Bayu, kak Ita, bang Napi, dan beberapa rekan lain, akhirnya mobil bisa dijadwalkan untuk di angkut pukul 14.00 WIB dengan kapal Ferry bernama Aceh yang menjadi kapal Ferry cadangan. Lega. Walaupun sempat gw, oom Bayu, dan beberapa rekan terpaksa luntang lantung di pelabuhan Balohan menunggu jadwal keberangkatan, toh akhirnya mobil akan bisa di angkut, ndak masalah lha. :-)

Pada saat menunggu itu, gw sempat ngobrol banyak sama bang Kidal mengenai rekan-rekan bikers lain yang berkunjung ke Pulau Weh, cerita-cerita lucu dan seram seputar perjalanan, maupun permasalahan meresahkan yang tertinggal selepas kunjungan mereka. Wah sempat miris, tapi gw berharap untuk rekan-rekan bikers se-Nusantara, dimanapun rekan-rekan semua berasal, jagalah nama baik bikers dimanapun berada dan kemanapun kita semua berkunjung. Dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung. Terima kasih yah? …

Akhirnya, kapal Ferry yang akan mengangkut mobil dan motor pun datang. Kami semua berjabat tangan erat dalam persahabatan saling melepas pergi. Gw berharap, suatu ketika akan bisa datang kembali ke pulau Weh, dan gw berharap pada saat kedatangan gw berikutnya nanti gw bisa menggunakan motor. Aaaamiiiinnnnn …

Kembali mesin raksasa menggerung mendorong kapal Ferry menuju dataran Sumatera. Sampai jumpa lagi pulau Weh.

berphoto sebelum naik ke kapal ...

masuk ke dalam lambung kapal ...

Sekembalinya ke pelabuhan Ulee Lheue, seorang rekan yang menunggu disana langsung ikut ke dalam mobil dan kembali mobil meluncur menuju Medan, sedangkan oom Bayu masih ingin bertandang dulu ke tempat salah satu rekannya di kota Aceh.

Kembali kami melewati perbukitan Seulawah, Sigli, Bireun, dan berhenti di Lhokseumawe. Disini kami masih harus mengantarkan beberapa lembar sertifikat titipan kak Ita kepada rekan-rekan bikers. Dan kami pun melajukan kendaraan kami kembali.

Tak lama, kami akhirnya berjumpa dengan rekan-rekan rombongan Setang Lebar Brotherhood, motor yang dikendarai oom Mufron mengalami kendala, akhirnya terpaksa harus di tinggal, dan dititipkan kepada kerabat salah satu rekan rombongan. Wah gawat. Weekend berikutnya oom Mufron terpaksa harus turing lagi donk?, hehe.

motor bermasalah di lhokseumawe ...

Selasa, 21 Juli 2009

Sepanjang Lhokseumawe sampai dengan Medan tidak ada kendala dengan kondisi jalan atau mobil selama perjalanan. Namun, sempat terkena 3 kali pemberhentian razia kendaraan dari beberapa kali razia kendaraan sepanjang perjalanan. Dari 3 kali razia ini, 1 kali kami diizinkan berangkat, 1 kali kena tilang karena tidak bisa menunjukkan racun api atau apar (alat pemadam api ringan, yakinlah hanya mobil mewah yang memiliki alat ini, dan mobil pada umumnya yang melewati jalur Aceh – Medan adalah bukan mobil mewah, hiks, aneh …), dan 1 kali kena tilang karena tidak ada kaca film mobil sewaan kami tidak memiliki izin — padahal mobil ini terhitung baru dan asli dari dealer, koq masih butuh izin? –.  Tapi yah sudahlah, yang penting gw dan rekan-rekan bisa segera sampai ke Medan dan beraktifitas kembali.

Akhirnya, sekira pukul 06.30 WIB, gw sampailah di rumah tempat gw menumpang untuk tinggal selama di Medan. Badan lemas namun puas. Alhamdulillah Ya Allah.

Catatan sepanjang perjalanan ini :

  • Jalanan halus mulus sepanjang jalan, hanya ada sedikit jalan buruk di daerah perbukitan Seulawah.
  • Kondisi sudah cukup aman dan Aceh masih dalam reklamasi besar-besaran, jadi konon kabarnya ada beberapa ruas jalan yang di rombak dalam peta tata kotanya.
  • Persiapkan segala hal yang mungkin diperlukan untuk perjalanan ini, karena kota satu dengan kota lainnya cukup berjauhan.
  • Perhatikan jadwal keberangkatan kapal Ferry serta perhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi karena minimnya jadwal kapal Ferry itu sendiri.
  • Pulau Weh adalah pulau terujung di bagian barat Indonesia dan sangat-sangat-sangat indah juga berharga, mohon bantuan untuk menjaganya, terima kasih.

Peta :

medan to nol kilometer

Thanks to :

  • Allah SWT yang telah memberikan rezeki yang cukup serta nikmat sehat untuk gw dan seluruh rekan perjalanan.
  • Seluruh rekan Setang Lebar Brotherhood, YSFC, YSC Semarang, HTCM, HTCI Aceh, YSAC, dan komunitas lain yang telah membantu terlaksananya perjalanan ini.
  • Bang Kidal, Kak Ita, serta si kembar Hendri dan Hendra putra mereka, atas keramahan dan kebaikan serta bantuan yang telah diberikan kepada kami.
  • Pak Sohar, rekan bikers dan pelaut yang baik hati.
  • Dua sobat karib gw selama di Medan, oom Martin dan Nuke, thanks a lot …
  • Milys – Mailing List Yamaha Scorpio, yang telah memberikan semangat untuk gw.
  • Dan seluruh pihak yang namanya mungkin lupa untuk disebutkan, mohon maaf dan terima kasih.

4 Responses to Nol Kilometer, Pulau Weh, Aceh : 17 – 20 Juli 2009

  1. salut bro.. bro koent sdh sampe ke titik nol.. gw ucapkan selamat dan sukses utk bro koent.. soal foto2 gw suka sekali.. baik lautan & langitan-nya keren banget! btw, yg lagi nyelam pake kamera apaan bro? emang sdh disiapin?

  2. khoent says:

    terima kasih oom Stephen, tapi gw mau ulang lagi ah, gak aci, hihi, sebab yang kemaren kagak naek motor, naek motornya cuma dari Langsa ke Lhokseumawe doank, hiks.
    pas photo menyelam pakai kamera saku olympus miu milik oom Bayu YSC Semarang, dan memang cukup lumayan untuk di bawah air khan?.

  3. Yeni Diana says:

    Hebat gan ane belum sempet ke nol KM pas ke aceh, terus sampe kena tilang karena gak bawa tabung pemadam api itu gimana? Sekarang kan harga tabung pemadam api murah gan contohnya bisa lihat di Tabung Pemadam Api Murah Berkualitas

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: