Djogdjakarta, 27 September – 4 Oktober 2008

Untuk kedua kalinya, akhirnya gw n si Blekok mengunjungi kampung leluhur gw, yaitu Desa Karanganyar (bokap) dan Desa Gobeh (nyokap), Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Djogdjakarta, yang harus gw tempuh dengan jarak sekitar 663km dari ibukota negeri ini, Jakarta.

Sabtu, 27 September 2008, Karawang

Gw gak mau ikutan dengan rekan yang lain untuk terlebih dahulu menyambangi pabrik Yamaha di daerah Pulogadung guna mengikuti acara Mudik Bareng Yamaha 2008, karena gw gak terlalu suka dengan prosesi dan acara semacam itu. Siang itu, selepas shalat dhuhur di kost an, gw langsung kabur ke Karawang dan sampai di sana sekitar pukul 14.30 WIB dengan melalui jalur Cibubur – Cileungsi – Jonggol – Cibarusah – Cikarang – Lemah Abang – Karawang dan langsung menuju ke rumah kakak gw, mas E’i, di daerah Teluk Jambe, Karawang.

Kondisi Jalur ini cukup lenggang dan hanya menemui beberapa ruas jalan rusak dan sedang diperbaiki di daerah Cibarusah, juga satu kemacetan yang sudah biasa di daerah pasar Cikarang dan satu kemacetan lagi di jalan Tuparev, pasar Johar, Karawang.

Gw bersantai ria di rumah kakak gw dan memang berencana untuk menginap sambil menunggu rombongan Tim Mudik Milys esok hari. Sore hari itu gw bersama kakak serta seorang putranya sempat bertandang juga ke rumah aki Benny di daerah Tambelang, perbatasan Cikampek dan Karawang. Disana gw bertemu juga dengan Joe ‘Begundal’ Ebony yang sedang memperbaiki kelistrikan motornya guna persiapan proyek ‘Nol Kilometer Aceh’, serta dua orang rekan pengguna Yamaha Scorpio dari Malang dan Surabaya.

Minggu, 28 September 2008, Perjalanan ke Djogdja di mulai

Panik, gw bangun kesiangan, jam 7 gw baru terjaga dan langsung menelepon rekan yang tergabung di Tim Mudik Milys. Ternyata mereka sudah berangkat dan sudah berada di daerah Lemah Abang. Langsung gw mandi, ngopi, dan makan mie rebus yang telah disediakan oleh keluarga kakak gw dengan sedikit terburu-buru. Di saat suapan terakhir, gw mendapat telepon yang mengabarkan bahwa Tim Mudik Milys sudah berada di daerah selepas Klari, tepatnya di Fortuna Motor. Waduh, segera gw bersiap dan kabur dari lokasi rumah kakak gw di Teluk Jambe dan langsung menuju ke tempat dimana rekan-rekan yang lain menunggu.

Sesampainya di lokasi, gw bertemu dengan beberapa orang yang sudah gw kenal, diantaranya oom Andi Brot, oom Hendraz, oom Aden, oom Arif, oom Husna, oom Harkac, dan lain-lain. Oom Andi Brot memberitahukan bahwa akan ada 2 motor yang ingin ikut dalam rombongan dengan kota tujuan Gombong dan Magelang.

Gak lama kami berada di Fortuna Motor, kami lalu segera beranjak menuju Cikampek. Aki Benny dan salah seorang putranya sudah menunggu di sebuah rumah sakit tempat pengobatan putranya itu. Beliau berencana untuk mengantar kami sampai selepas Cikampek menuju Subang. Demikian juga oom Husna yang tinggal di Purwakarta.

Di Cikampek, oom Arif dan salah seorang rekan memutuskan untuk berpisah dari rombongan karena beliau dan rekannya ingin mengambil jalur yang berbeda dengan kami. Mereka mengambil jalur Pantura, sedangkan kami akan mengambil jalur Tengah menuju Subang.

Beberapa kendala kami temui dalam perjalanan menuju Subang, seperti kemacetan di salah satu ruas jalan yang tengah di beton, kemacetan di sekitar hutan Subang, serta musibah ban kempes yang menimpa salah satu rekan dalam rombongan. Namun, semua kendala itu bisa kami lewati dengan baik. Di daerah Subang kami sempat rehat sejenak, dan kembali beristirahat di daerah Tomo selepas Subang.

Perjalanan berlanjut kembali, kami melewati jalur Subang – Tomo – Kadipaten – Majalengka – Cikijing menuju Ciamis. Jalur ini kami ambil dengan pertimbangan karena jalannya lebih sepi dan minim resiko kemacetan yang marak terjadi di jalur mudik menjelang lebaran. Di daerah Cikijing, kami menemui kendala kecil, hujan rintik-rintik menjelang maghrib membuat kami terpaksa menepi, karena salah satu rekan kami membawa keluarga serta dua orang putrinya yang berumur 2 dan 4 tahun, namun mereka tidak mempersiapkan jas hujan satu pun. Satu hal yang sangat gw sesali, putri-putri yang lucu-lucu itu tidak diberikan helm sebagai pengaman untuk mereka, juga penutup hidung untuk pengaman alat pernafasan sepanjang perjalanan.

Perjalanan kami lanjutkan dengan sangat perlahan karena jalan yang licin bekas hujan dan jalur jalan yang berliku-liku serta menanjak dan menurun bergantian sepanjang Cikijing hingga Ciamis. Akhirnya, sekitar pukul 19.00 WIB sampailah kami di pinggir kota Ciamis, dan langsung berbelok ke kiri menuju kota tujuan berikutnya, yaitu Majenang. Di Majenang, kami sempat beristirahat kembali dan menikmati minuman ringan serta mie ayam dari pedagang di sekitar tempat kami rehat.

Lelah dan kantuk mulai menimpa mata gw. Namun, perjalanan masih jauh. Gw tetap harus semangat. Gw gak mau kalah dengan dua putri mungil dari rekan perjalanan gw yang tetap saling bercanda dan tertawa meski gw yakin mereka juga sudah sangat lelah.

Gak lama, kami pun bertolak kembali, beberapa kota kami lewati dengan kecepatan agak tinggi. Jalur yang cenderung monoton lurus menemani kami sepanjang Wangon hingga Gombong. Disini kami berhenti kembali karena salah satu peserta rombongan serta keluarganya telah sampai di kota tujuan mereka dan langsung memisahkan diri setelah saling berpamitan. Alhamdulillah.

Senin, 29 September 2008, On The Way to Djogdjakarta

Sepeninggal mereka sekeluarga, kami memutuskan untuk rehat agak panjang. Gw langsung menuju warung dan melahap soto babat yang di jual di situ dan langsung tidur di emperan sebuah toko sesudahnya. Lumayan.

Setelah rehat, kami pun bersiap kembali. Namun, kendala melanda salah satu rekan kami yang membawa istrinya. Sang istri mengalami keram perut dan butuh istirahat lebih. Sang Suami meminta kami untuk meninggalkan mereka di situ dan akan menuju kota tujuan mereka, Magelang, sendirian.

Yah sudah, keputusan akhir sudah di ambil. Tinggal kami bertiga sisa rombongan di Gombong itu, yaitu oom Andi Brot, oom Hendraz, dan gw sendiri. Kami pun langsung melajukan kendaraan kami kembali melewati kota-kota menuju Djogdjakarta dengan kecepatan yang cukup tinggi. Melewati kendaraan pemudik lain serta bis luar kota yang mungkin sedang menuju ke kota tujuan yang sama dengan kami.

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami memasuki bibir kota Djogdjakarta. Oom Andi Brot menelepon rekan YSC Djogdja yang sedianya akan menyempatkan diri untuk menjemput kami menjelang kami masuk ke kota Djogdja. Dan akhirnya kami pun bertemu dengan dua orang rekan YSC Djogdja tersebut, oom Eral, ketua YSC Djogdja, serta oom Aldo, perantauan Serpong yang masih kuliah sambil bekerja di kota Gudeg itu menemani perjalan kami memasuki jantung kota Djogdja. Kami diarahkan menuju sebuah rumah di Jalan Sulawesi, Djogdjakarta Utara, yang ternyata adalah kediaman oom Eral.

Kami kembali beristirahat sambil menikmati kopi panas yang telah disuguhkan oleh keluarga oom Eral. Nikmat dan gw kembali gak puasa, hehe.

Oom Hendraz yang sudah kelelahan memutuskan untuk rehat di rumah oom Eral. Sedangkan gw dan oom Andi Brot kembali melajukan tunggangan kami menuju jantung kota Djogdja, menuju sebuah hotel mungil yang bernama Dieng Permai di jalan Bumijo, tak jauh dari Malioboro.

Disana gw dan oom Andi Brot langsung terkapar kelelahan.

Baru saja kami rehat, sekitar pukul 11 siang hari kamar kami di ketuk oleh beberapa orang sambil berteriak memanggil kami berdua. Ternyata, rekan-rekan dari YSC Surakarta sudah berada di depan kamar. Gw sempat berteriak saat melihat seraut wajah rekan yang sudah lama tidak pernah gw temui, oom Edo Bantji. Sudah sekitar 3 tahun lebih gw tidak pernah bertemu dengan beliau. Wahhhh … senang sekali gw siang itu.

Tak lama mereka berpamitan untuk menuju rumah oom Eral. Karena malam ini kami semua berencana berkumpul di tengah Djogdja sebagai acara dadakan untuk rekan-rekan yang datang menyambangi kota Djogdja menjelang lebaran tahun ini.

Gw n oom Andi Brot kembali terkapar hingga sore hari menjelang maghrib.

Sore itu, kami kembali kedatangan dua orang penunggang Yamaha Scorpio Djogdja yang akan mengantar kami menuju sebuah tempat makan di daerah Kaliurang dan menjelang larut pindah lokasi ke Kopi Joss di bagian timur stasiun Tugu. Disana sudah menunggu rekan-rekan dari YSC Djogdja, Milys Djogdja, Scorpioholic, YSC Surakarta, YSC Bekasi, STAR (Scorpio Tangerang Riders), dan masih banyak lagi.

Meski kami berasal dari komunitas yang berbeda, itu bukan penghalang untuk kami bisa berkumpul. Semuanya jadi seru tanpa batasan apa pun.

Untuk pertama kalinya, gw bertemu dengan oom Putra Wirajaya. Beliau adalah wakil Milys untuk wilayah Djogdjakarta. Selama beberapa tahun terakhir ini, gw dan beliau hanya berkorespondensi via email dan forum website saja. Tak lama, muncul oom Bari yang kebetulan juga sedang mudik. Juga oom Hakeem yang bersama teman-teman sepermainannya mudik bersama.

Malam itu gw sangat puas berada di kota Djogdja karena bisa bertemu dengan rekan-rekan dari hobi yang sama.

Akhirnya, gw kembali rehat di kamar hotel. Beda dengan tadi siang gw bisa tidur di kasur empuk, malam itu gw tidur di dalam sleeping bag yang biasa gw bawa kalau sedang kabur dari rumah, karena tiga beruang, oom Andi Brot, oom Hendraz, dan oom Fariz, sudah mengakuisisi seluruh tempat tidur yang tersedia, hihi.

Selasa, 30 September 2008, Di Djogdja dan Klaten

Kami semua bangun agak siang hari itu, santai sejenak sambil menunggu kedatangan seorang lady biker Djogdja, tante Rani, yang akan mengantar kami sedikit berkeliling kota Djogdja serta mencari bengkel untuk sedikit perbaikan pada tunggangan oom Andi Brot.

Sekitar pukul 10.00 WIB, beliau pun datang. Kami check out dari hotel, dan segera menuju beberapa tempat yang diketahui oleh tante Rani ada bengkel yang masih buka. Dan akhirnya kami menemukan sebuah bengkel yang bisa membantu masalah oom Andi Brot. Lokasi bengkel ini berada tepat di seberang sungai yang mana di seberangnya terletak Museum Affandi.

Permasalahan beres, akhirnya kami meluncurkan Yamaha Scorpio kami kembali. Kami menuju rumah oom Eral untuk mengambil pakaian oom Fariz yang dititipkan di sana. Setelah itu, kami semua berpamitan dan segera melajukan kendaraan kami untuk mengantar tante Rani pulang dan menuju Klaten yang menjadi tujuan oom Hendraz kali ini.

Sebelum kami semua sampai di tempat tujuan oom Hendraz, kami sempat makan bebek goreng terlebih dahulu, enak banget di saat lapar seperti itu.

Usai prosesi makan siang, gw memutuskan untuk segera menuju ke kota kecil leluhur gw di Semin, sedangkan yang lain segera menuju ke rumah salah satu kerabat dari oom Hendraz yang tidak jauh dari tempat makan siang kami tadi.

Gw lalu memulai perjalanan kembali, gw ambil jalur Bayat – Cawas – Pedan – Sambeng dan berakhir di Desa Karanganyar, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Djogdjakarta. Jarak lokasi ini dari lokasi sebelumnya adalah sekitar 30km. Akhirnya, gw dan si Blekok bisa hadir kembali ke kampung halaman. Alhamdulillah.

Kembali rehat, namun terganggu oleh keponakan gw yang mengajak gw main monopoly, ya ampun, kalahkan mereka semua secepatnya dan langsung tidur seusainya, hehe.

Rabu, 1 Oktober 2008, Lebaran …

Gema takbir yang berkumandang dari mushala sebelah rumah orang tua gw membangunkan gw untuk segera shalat Shubuh dan bersiap untuk shalat Ied. Ramadhan kali ini gw gak menorehkan prestasi yang bisa dibanggakan. Maafkan aku ya Allah …

Oh iya, Minal Aidin Walfaidzin, Maafkan gw lahir dan bathin, untuk semuanya yah?.

Gw n keluarga shalat Ied di pelataran sebuah Sekolah Dasar yang tidak jauh dari rumah. Dan sesudahnya, kami semua langsung berkumpul di rumah untuk melakukan halal bihalal dengan orang tua gw n dengan seluruh anggota keluarga yang kebetulan hadir di kampung halaman bokap itu.

Siangnya gw ikut kembali ber halal bihalal ke kampung halaman nyokap di Desa Gobeh yang jaraknya sekitar 3km dari lokasi gw sekarang. Disini gw juga sempat ke makam kakek dan nenek gw dari keluarga nyokap dan langsung kembali ke rumah untuk melanjutkan istirahat. Badan masih pegel nih.

Menjelang sore keluarga gw datang setelah berhalal bihalal kesana kemari sembari mengunjungi keluarga dan kerabat kami yang lain. Gw sendiri mempersiapkan si Blekok untuk perjalanan besok. Gw n aki Benny sudah janjian di daerah Klaten untuk bersama-sama menyusul oom Andi Brot dan oom Hendraz yang sudah terlebih dahulu berada di Kuningan, Jawa Barat, untuk suatu acara penting bagi oom Andi.

Setelah beres persiapan si Blekok, gw membersihkan diri dan bermain bersama keponakan gw kembali sampai menjelang malam. Dan kembali gw tertidur pulas di antara keheningan dan udara dingin kampung halaman gw itu.

Kamis, 2 Oktober 2008, Menuju Kuningan, Jawa Barat

Pagi menjelang, sesuai dengan rencana gw bersiap untuk memulai perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Namun, sebelum menuju Jakarta gw berniat untuk mampir ke beberapa lokasi terlebih dahulu, yaitu Kuningan dan Bandung, keduanya ada di dalam lingkup propinsi Jawa Barat.

Persiapan di mulai, segala hal yang berkaitan dengan perjalanan gw persiapkan dengan baik. Ini semua harus gw lakukan agar gw lebih siap di perjalanan nanti. Blekok is ready, and so do I …

Sip, pukul 10.00 WIB. Gw ada janji ama aki Benny di daerah Solo. Pamit kepada orang tua dan saudara-saudara disana dan langsung gw tancap gas si Blekok melaju melewati kota-kota kecil semisal Pedan, Cawas, Bayat, dan Klaten. Sesampainya di Klaten, gw cek GPS dan gw melihat ada jalur singkat menuju kota Boyolali dari posisi gw di Klaten itu. Sip, gw ambil jalur itu. Sambil tak lupa sebelumnya gw kirim pesan singkat ke aki Benny kalau gw akan lebih baik jika menunggu di Boyolali.

Perjalanan ke arah Boyolali alhamdulillah tanpa kendala sama sekali. Dan sesampainya gw di Boyolali, gw cek handphone yang gw punya. No message. Yah sudah, gw lanjutkan perjalanan kembali. Mungkin saat ini aki Benny juga sudah memulai perjalanannya dan akan menyusul gw tengah perjalanan nanti.

Gw kembali melaju menuju kota Salatiga. Nah di jalur ini, gw sangat sengsara sekali. Kemacetan sepanjang jalur sempat membuat gw berhenti beberapa kali untuk rehat karena letih tangan yang bermain kopling. Pantang menyerah, gw teruskan meski perlahan perjalanan gw ini. Sip, Salatiga yang macet akhirnya terlewati. Kembali gw cek sms, no message. Lanjut lagi menuju Ungaran – Semarang – Kendal.

Di kota Kendal, gw kembali beristirahat di sebuah warung dan minum untuk menambah cairan dalam tubuh gw. Kembali cek sms, ada sebuah pesan, isinya aki Benny saat ini baru saja lepas dari kota Karanganyar menuju Solo karena ada kendala rem pada motornya, walah jauh sekali, pikir gw.

Oke, gw putuskan untuk kembali berjalan santai menuju Weleri – Alas Roban, dan kembali rehat di Batang untuk sekedar minum kopi. Cek sms, ada pesan lagi bahwa aki Benny akhirnya mengambil jalur melewati Temanggung setelah Boyolali. Lho, koq malah ambil jalan pintas yang agak berbahaya?. Yah sudahlah, terserah saja.

Gw lanjutkan perjalanan kembali menuju kota berikutnya. Pekalongan – Pemalang – Tegal – Brebes – Tanjung – Losari gw lewati dengan lancar dan tanpa kendala. Tapi akhirnya terpaksa gw harus berhenti di kota Losari karena isi perut sudah meminta jatah untuk di isi. Baru ingat, gw belom makan dari pagi, hehe. Menu Sop dan Sate Kambing pun akhirnya pindah masuk ke perut gw. Kenyang. Cek sms, ada pesan bahwa aki Benny saat itu tengah berada di sebuah daerah pegunungan sambil menyeruput kopi panas. Wow, mantab.

Gw lanjutkan perjalanan kembali. Tanpa berhenti, akhirnya tiba di kota Cirebon sekitar pukul 18.00 WIB. Lelah dan letih tapi tetap harus menunggu aki Benny, gw putuskan untuk menghubungi oom Endro yang kebetulan sudah berdomisili di kota Cirebon menemani orang tuanya. Sip, akhirnya gw dapat tempat istirahat untuk sementara sambil menunggu aki Benny datang. Gw menuju rumah oom Endro di daerah Goa Sunyaragi. Rehat eui. Rekan-rekan yang lain yang sudah terlebih dahulu datang ke Kuningan sudah menunggu kami di sebuah hotel di pusat kota.

Sekitar pukul 22.00 WIB, sebuah pesan singkat masuk ke hp oom Endro. Sms dari aki Benny yang mengatakan bahwa beliau baru akan memasuki kota Cirebon. Akhirnya, disepakati bahwa oom Endro akan menjemput aki Benny di dekat kompleks Goa Sunyaragi di Jalan Raya Lingkar Utara kota Cirebon. Dan sekitar pukul 23.00 WIB kurang sedikit, sampailah seorang pria separuh baya dan menjelang pensiun (hihi, maap ki …) dengan mengenakan dandanan touring lengkap dan menunggangi sebuah Yamaha Scorpio hitam ber-plat Karawang di halaman belakang rumah oom Endro, tempat gw bersantai dan rehat saat itu, dan gw langsung dimarahin habis-habisan karena meninggalkan beliau sepanjang perjalanan, hihi, maap lagi yah ki, nanti saya kasih emping deh, hehe …

Jumat, 3 Oktober 2008, Sampai di Kuningan dan Bandung, Jawa Barat

Rehat selesai, pamitan ama oom Endro dan bergerak lagi menuju lokasi janjian di Kuningan. Dan akhirnya sampailah kita di hotel yang menjadi lokasi janjian sekitar pukul 01.00 WIB. Capek eui. Tebar sleeping bag, tidur …

Pagi itu gw bangun agak siang, nyenyak tidur eui …

Oom Andi Brot, oom Sontri, oom Emje, nyonya Emje, dan sebuah mobil Honda Jazz telah menghilang dari lokasi untuk sebuah acara yang gw gak terlalu mengerti agendanya. Tinggal oom Hendraz, oom Rahboy, oom Kukuh, dan oom Fariz yang masih ada di lokasi. Sarapan mie rebus dan minum kopi panas. Sambil kembali mempersiapkan si Blekok untuk etape berikutnya. Tapi kali ini gw pengen bener-bener sendirian. Dan rekan-rekan yang lain pun mengamini keinginan gw itu.

Sip, pukul 12.00 WIB gw kembali bergerak menuruni jalan kota Kuningan menuju Cirebon. Dari Cirebon gw sempat menyambangi rumah seorang kawan dan kembali bergerak menuju Bandung sekitar pukul 02.00 WIB. Palimanan – Jatiwangi – Kadipaten – Cijelang – Sumedang gw lewati dengan agak tersendat dan cukup di bilang lancar karena arus lalu lintas yang kebetulan agak padat.

Di Sumedang, gw sempat rehat dan mencicipi makanan yang sangat terkenal asli produksi Sumedang, yaitu Tahu, Tahu Sumedang. Enaknya. Setelah usai, gw kembali melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sari – Cileunyi – Bandung – Buah Batu. Disini gw langsung menuju rumah oom Mada. Tanpa bantuan GPS, gw yakin bakalan nyasar. Bandung agak ribet eui …

Gw rehat dan ngobrol santai dengan oom Mada, tak lama, oom Nago yang kebetulan tengah mengunjungi orang tuanya juga muncul di rumah oom Mada. Wah rame. Malamnya, tim Kuningan pun muncul juga di rumah oom Mada. Begitupun ada beberapa rekan dari YSC Jakarta yang juga ikut mampir dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Aki Benny, oom Hendraz, dan oom Kukuh tidak muncul, ternyata mereka langsung pulang ke Jakarta via Subang – Cikampek.

Capek ahhh … tidur lagi …

Sabtu, 4 Oktober 2008, Menuju Jakarta

Pagi hari gw bangun dan di sambut dengan sarapan ala rumahan di rumah oom Mada. Enak. Kopi panas berlanjut sebagai menu berikutnya.

Gw persiapkan kembali si Blekok agar siap diperjalanan nanti. Sip, beres. Menjelang siang, oom Donny “anak cekola” pun datang ke rumah oom Mada. Beliau akan menghantar kami sampai kota Cimahi nanti.

Rombongan pun bersiap juga. Tapi, kami sempat mampir dulu lho ke FO, maem siang, dan ke rumah sakit bersalin tempat istri oom Gde melahirkan. Selamat yah oom …

Seusai itu semua, menjelang sore kami pun berangkat bersama menuju Jakarta. Kemacetan di jalur Cimahi – Padalarang menjadi sedikit kendala untuk kami, begitu juga hujan rintik-rintik sepanjang jalan keluar dari kota Bandung sampai dengan Ciranjang, sebuah kota di pinggiran Cianjur.

Di Ciranjang, kami rehat sejenak. Kami putuskan untuk melewati Jonggol – Cibubur saja. Dan jalur Ciranjang – Cariu – Jonggol – Cibubur pun kami lahap, hanya sedikit kemacetan yang kami temui, namun kendala sesungguhnya adalah pada kondisi jalan yang basah dan licin usai hujan. Bikin deg-deg-an lho, hihi. Kurang dari satu jam semenjak rombongan meninggalkan Ciranjang, kami akhirnya sampai di Cibubur dan mencuci kendaraan kami disana sekaligus makan malam.

Usai mencuci kendaraan kami masing-masing, akhirnya bersama-sama kami menuju Depok. Disinilah kami semua berpisah menuju kediaman kami masing-masing.

Alhamdulillah, gw sampai di rumah lagi. Terima kasih ya Allah …

Total Kilometer : 1273 km (perhitungan kasar berdasarkan data peta mudik 2007)
Total Bensin : 40 liter bensin
Perkiraan bensin berbanding kilometer : 1 liter untuk 31,8 kilometer.

Jalur perjalanan :

  • berangkat hitam
  • pulang biru

Thanks to :

  • Allah SWT untuk segala rahmat dan karunia-Nya selama perjalanan kami
  • Orang tua dan saudara-saudara gw untuk doa mereka buat gw
  • Rekan-rekan seperjalanan selama pergi pulang Jakarta – Djogdjakarta
  • Mailing List Yamaha Scorpio (MILYS)
  • Gerombolan Liar Yamaha Scorpio (GELYS)
  • Oom Mada dan Keluarga
  • Oom Endro dan Keluarga
  • YSC Djogdjakarta, YSC Semarang, YSC Surakarta – JOGLOSEMAR
  • Anggota Blackaholic Cirebon yang sudah nemenin gw pas nyasar di daerah Goa Sunyaragi
  • Oom Putra dan nyonya di Djogdjakarta, dan rekan-rekan lain yang sudah datang menemani gw selama di Djogdja
  • Dan seluruh pihak yang terlibat selama perjalanan dan belum gw sebutkan di atas, hehe.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: