Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, dan Pangumbahan – Jawa Barat : 31 Des. 2008 – 1 Jan. 2009

Salah satu cita-cita gw untuk mengunjungi Pelabuhan Ratu dan Ujung Genteng akhirnya terwujud di penghujung tahun 2008 kemarin, plus bonus tambahan yang tidak gw duga sama sekali, karena gw juga baru tahu kalau ternyata nama pantai yang gw kunjungi pagi dinihari di awal tahun 2009 itu juga ada dalam daftar rencana kunjungan gw selama ini, yaitu Pantai Pangumbahan, dimana gw akhirnya bisa melihat salah satu kuasa Illahi secara nyata di depan mata tanpa terlindung oleh jeruji , kaca, photo, atau video.

gw n si panjul di Ujung Genteng

Rencana untuk melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu sudah terbersit di benak gw semenjak awal tahun 2008 lalu, di saat beberapa rekan bercerita tentang indahnya pantai yang membentang di sebuah teluk yang sudah sangat tersohor dengan salah satu kepercayaan dari penduduk setempat dan juga sebagian rakyat negeri tercinta ini sejak dulu kala dengan cerita tentang Ratu Laut Selatan-nya.

Sedangkan rencana untuk melakukan perjalanan ke Ujung Genteng baru terbersit beberapa minggu yang lalu setelah mengikuti berita tentang perjalanan salah satu klub yang gw ikuti mailing list-nya kesana. Melihat beberapa photo yang terkirim masuk ke email gw yang terdaftar di mailing list tersebut, gw langsung tertarik untuk bisa pergi kesana juga.

Akhirnya, menjelang akhir tahun lalu gw bersama dengan salah seorang kawan, yang minggu sebelumnya beliau baru saja melakukan perjalanan dari Sumbawa ke Jakarta dengan menggunakan Yamaha Scorpio-nya sendirian, merencanakan untuk pergi ke dua lokasi wisata pantai yang sudah terkenal ini. Beberapa rekan lain pun tertarik untuk ikut mendengar rencana kami ini.

Akhirnya, 7 orang dengan menggunakan 5 Yamaha Scorpio dan 1 Yamaha Jupiter Z pun mulai meluncur dengan tujuan Pelabuhan Ratu dan Ujung Genteng pada sekitar pukul 11.00 WIB dari Bengkel Pauls Motor di Jalan Margonda Raya, Depok.

bersiap di bengkel pauls motor depok, bikin dudukan kamera

dudukan kamera jadi dan posisi trip awal

Jalur yang kami lalui menuju kota Bogor agak sedikit berputar, karena kami perkirakan kota Bogor pasti lah sangat macet di penghujung tahun 2008 ini. Kami mulai menuju Sawangan – Pengasinan – Sasak Panjang – Cilendek – Ciomas – Ramayana – Batu Tulis – Cijeruk. Di Cijeruk ini, waktu menunjukkan sekitar pukul 13.30 WIB, kami sempat beristirahat sejenak untuk membeli perbekalan minum dan makanan kecil.

rehat di Cijeruk

Perjalanan kami lanjutkan kembali, akhirnya kami masuk ke Jalan Raya Bogor – Sukabumi, disini kami menemui sedikit kendala dengan turunnya hujan. Akhirnya kami berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan yang telah kami siapkan sebelumnya dan kembali melanjutkan perjalanan sampai ke sebuah pertigaan (berada di koordinat S 06°52.642’ E 106°46.590’), berbelok ke kanan, dan memasuki jalur alternatif ke arah Cikidang yang terkenal dengan jalur jalannya yang berliku-liku.

Jalanan agak basah dengan turunnya hujan rintik-rintik, si Panjul yang berada di bagian paling belakang dari rombongan di pacu tidak bisa lebih dari 60kpj, jalanan licin berliku dan ban yang sudah berumur sekitar 2 tahun membuat gw harus lebih berhati-hati di sepanjang jalan alternatif menuju Pelabuhan Ratu itu.

Akhirnya Cikidang pun terlewati dengan baik dan sampailah kami semua di sebuah SPBU di Pelabuhan Ratu yang menurut informasi adalah SPBU terakhir yang memiliki produk Pertamax (berada di koordinat S 06°59.754’ E 106°33.445’). Si Panjul pun di isi penuh tangki bensin nya.

SPBU Pertamax Pelabuhan Ratu

Sesudah prosesi pengisian bensin, kami melajukan kembali kendaraan kami menuju sebuah lokasi di pinggiran pantai Pelabuhan Ratu, yaitu sebuah rumah makan yang kalau gw tidak salah ingat bernama Mutiara Sari (berada di koordinat S 06°58.218’ E 106°31.223).

Suasana pantai Pelabuhan Ratu sore itu agak mendung dan beberapa kali turun hujan gerimis. Kami pun akhirnya menempati sebuah saung kecil yang mampu membuat kami langsung bisa memandang kelaut, melihat keindahan pantai Pelabuhan Ratu dan banyaknya pengunjung ke tempat itu. Setelah menunggu beberapa lama sambil sesekali melakukan photo bersama, akhirnya makanan yang kami pesan pun datang. Dengan lahap kami memakan hidangan ikan bakar, cah kangkung, dan makanan utama rakyat Indonesia yaitu nasi. Seekor kucing yang agak mengganggu kami melahap hidangan tidak mengendurkan semangat kami untuk menghabiskan makanan yang tersedia di atas meja.

Rumah Makan Mutiara Sari Pelabuhan Ratu

pemandangan di sebelah kiri rumah makan

pemandangan sebelah kanan rumah makan

pantai pelabuhan ratu di waktu senja

mulai makan ...

Kucing Jahil

si Jahil mengincar sisa ikan

Usai makan, sekitar pukul 17.30 WIB, kami pun kembali bertolak menuju Ujung Genteng. Kembali kami melewati jalan-jalan yang cukup licin dan berliku di dalam sebuah hutan menuju Kiara Dua, Simpenan. Lokasi ini berjarak sekitar 40km dari lokasi kami dari Pelabuhan Ratu tadi. Sesudah beristirahat di Kiara Dua, kami pun kembali mengendarai kendaraan kami. Namun, di sebuah tempat menuju kota tujuan kami berikutnya, Surade, motor oom Cakra menemui kendala. Ban belakang motor oom Cakra kempes dan harus diperbaiki. Kebetulan oom Mufron melihat sebuah bengkel ban tak jauh dari posisi kami tersebut dan kami berbalik arah menuju bengkel ban tersebut.

Ban belakang oom Cakra yang peleknya menggunakan jari-jari rupanya dimodifikasi agar bisa menggunakan ban tubeless, namun mungkin karena peruntukan di perjalanan yang kurang tepat membuat modifikasi tersebut malah berbalik merugikan pengendaranya. Untungnya, oom Surya punya cadangan ban dalam yang cocok untuk ban belakang motor oom Cakra, dan kendala tersebut akhirnya bisa diselesaikan dengan baik dan akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan kembali.

kendala ban motor oom Cakra

Kota Surade pun terlewati dan kami akhirnya memasuki gerbang wisata memasuki area Ujung Genteng. Pinggiran pantai Ujung Genteng sangat ramai menjelang malam pergantian tahun. Hampir setiap warung penuh dengan orang yang berjoget diiringi lagu dangdut sambil bergembira ria. Kami terus saja melaju lebih jauh lagi menuju sebuah penginapan dimana disana oom Bams mencari informasi tentang rumah penduduk yang bisa di sewa untuk kami bisa menginap malam itu. Alhamdulillah, usaha pencarian informasi ini membuahkan hasil, kami pun di pandu menuju sebuah rumah yang berada di pinggiran perkampungan penduduk di pesisir pantai Ujung Genteng tersebut. Lokasi rumah ini terletak di koordinat S 07°20.580’ E 106°24.174’, dengan biaya sewa rp. 300.000,- untuk satu hari nya.

Mencari penginapan mungkin tidak terlalu sulit, namun perjuangan kami menuju rumah tersebut lah yang sangat berat. Kami harus melewati banyak genangan air dan lumpur yang juga bersatu dengan pasir pantai di sepanjang pesisir, melewati jembatan yang hanya terdiri dari 3 buah batang kelapa yang disusun sambil dengan pasrah diterjang percikan sisa-sisa ombak, dan gelapnya malam hari itu juga agak menyulitkan penglihatan karena lokasinya yang minim penerangan, membuat kami sangat kesulitan melalui medan ini, untungnya beberapa penduduk setempat ada yang mau membantu kami memberi arahan bagi kami agar bisa menyeberang dengan selamat. Sempat tercatat oom Surya yang masuk ke dalam kubangan lumpur dan terjatuh ke dalamnya bersama adik yang menjadi boncenger-nya. Perjuangan kami semua tidak sia-sia, sekitar pukul 22.30 WIB kami semua akhirnya sampai di rumah yang akan kami sewa sampai keesokan harinya itu.

akhirnya sampai di rumah sewaan untuk istirahat

mengisi waktu main domino sebelum berkunjung ke mama penyu

Setelah membereskan dan mengamankan bawaan kami yang penting ke dalam rumah, kami pun lalu bersantai di pekarangan sambil menyeruput kopi dan bermain domino bersama. Kami berusaha untuk tidak tertidur bukan karena kami menunggu pergantian tahun 2008 ke tahun 2009, bukan juga karena kami tidak lelah setelah menempuh perjalanan tadi, namun kami berusaha untuk tidak tertidur karena kami ingin mengunjungi sebuah lokasi yang konon kabarnya merupakan suaka bagi penyu yang akan bertelur dan juga penangkaran bagi telur tersebut sampai dengan menjadi tukik yang nantinya akan dilepas kembali ke laut lepas. Hanya oom Mufron yang akhirnya menyerah dan memilih untuk beristirahat malam itu, sisanya yaitu kami ber-enam dengan menggunakan 5 buah motor akhirnya berangkat menuju lokasi yang telah kami rencanakan sekitar pukul 01.00 WIB di awal tahun 2009 itu.

Medan yang kami lalui kali ini lebih sulit dari yang kami lalui tadi di saat menuju rumah singgah dari pantai Ujung Genteng. Bahkan kami sempat tersasar beberapa ratus meter karena oom Bams sempat terlupa dengan rutenya. Untuk menuju lokasi penangkaran penyu dari tempat kami menginap jaraknya hanya sekitar 1km, namun kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai kesana.

Jalanan yang kami lalui penuh dengan lumpur tebal, genangan air di jalan yang membentuk kolam kecil, jalanan licin dan sangat tidak kami kenal medannya dan juga gelapnya jalan di sepanjang rute perjalanan kami membuat kami sangat sulit untuk menuju ke lokasi tujuan. Tercatat beberapa kali sandal yang kami gunakan masuk ke dalam lumpur dan tetap tertinggal didalamnya di saat motor maju beberapa puluh sentimeter, atau beberapa motor dari kami sempat juga masuk ke dalam kubangan lumpur dan tidak bisa maju sama sekali sampai akhirnya perlu di bantu untuk di dorong keluar dari kubangan lumpur tersebut.

mengambil sendal yang tertinggal di lumpur

oom Surya tetap bahagia meski stress, hihi ...

Usaha kami tidak sia-sia, salah seorang pekerja di penangkaran penyu tersebut memberitahu kami bahwa ada seekor penyu yang telah menyelesaikan prosesi bertelurnya. Kami langsung mengikuti pekerja penangkaran penyu tadi menuju sebuah lokasi di pantai, yang akhirnya gw ketahui dari beliau bahwa pantai tersebut bernama pantai Pangumbahan, dimana terlihat seekor penyu yang sedang berusaha keras menimbun tempatnya bertelur. Meskipun telur-telur telah diamankan sesaat setelah prosesi bertelur dilakukan oleh penyu tersebut, namun mungkin karena naluri hewannya, penyu tersebut tetap menyelesaikan proses penimbunan telurnya.

mama penyu sedang menimbun tempat bertelurnya

Penyu tersebut cukup besar, bisa di lihat dari illustrasi di photo bahwa besarnya adalah hampir sebesar oom Cakra yang sedang jongkok di samping penyu tersebut. Umurnya diperkirakan sekitar 150 – 200 tahun. Pekerja tersebut dan juga oom Bams mengatakan bahwa kami yang datang pertama kali itu kesana sangat beruntung bisa melihat hewan langka sebesar ini. Alhamdulillah …

oom Wahid terpeleset saat berphoto ...

oom Cakra dan mama penyu

Ada sedikit kejadian yang membuat kami kesal, serombongan orang yang entah dari mana bergabung dengan kami, beberapa dari mereka sempat mempermainkan penyu yang akan bertolak menuju laut, bahkan sampai menaiki penyu tersebut yang sudah sangat payah terseok-seok di atas pasir. Mohon untuk tidak meniru mereka yah teman-teman?.

jangan di tiru, lindungi para penyu

Setelah berphoto dengan sang penyu beberapa kali sampai dengan penyu tersebut kembali ke laut, kami pun kembali bertolak menuju rumah singgah. Kembali kami harus berjuang untuk melewati rute berat dan berlumpur tadi.

mengantar ke laut

menuju ke laut

akhirnya, laut lepas ... bye mama penyu ...

Sesampainya di rumah singgah, kami pun langsung membersihkan diri dan segera beristirahat. Waktu menunjukkan sekitar pukul 03.00 WIB di tanggal 1 Januari 2009 itu.

Pagi hari gw bangun sekitar pukul 08.00 WIB, badan masih penat dan mata masih ngantuk. Tapi gw harus bangun karena tidak mau melewatkan pagi itu dengan percuma. Langsung ke halaman depan, memesan kopi dan mie goreng untuk sarapan, lalu bersantai sambil bercanda tawa dengan teman-teman yang lain.

Persiapan untuk kembali ke Depok mulai kami lakukan sekitar pukul 15.00 WIB, dan kami pun bertolak menuju ke Depok sekitar pukul 16.00 WIB. Sempat kami berphoto ria di sepanjang pantai Ujung Genteng, melewati muara sungai tanpa melalui jembatan kecil yang terbuat dari kayu kelapa semalam karena air nya cukup surut, dan kini bisa dengan leluasa bermanuver melewati kubangan air karena pandangan kami tidak terganggu oleh kegelapan seperti semalam.

bersiap kembali untuk pulang

kondisi jalan yang semalam kami lewati menuju rumah sewaan

berfoto di pantai ujung genteng

Namun, baru saja kami bertolak sekitar beberapa puluh menit dari pantai Ujung Genteng, kecelakaan menimpa salah satu rekan kami yang menggunakan Yamaha Jupiter Z karena jalanan yang kurang bagus. Ban depan beliau menapak di atas gundukan aspal yang terlipat dan Yamaha Jupiter Z-nya sempat terbang namun tanpa mendarat dengan sempurna. Akhirnya, beberapa titik di badan motor, lampu, dan helm, serta badan oom Wahid pun jadi korban. Semalam (tanggal 2 Januari 2008, sekitar pukul 22.00 WIB di jalan Juanda, Depok), gw sempat bertemu beliau dan beliau mengatakan badannya masih kaku dan pegal karena kecelakaan itu. Perbaikan sekedarnya karena minimnya peralatan yang dibutuhkan pun dilakukan, dan kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

oom Wahid mengalami kecelakaan

Sekitar pukul 18.15 WIB, kami kembali mampir di Kiara Dua dan parkir di depan warung di seberang polsek Simpenan. Kami memesan sate kambing dari warung makan yang ada di dekat situ dan makan dengan lahap. Sesudahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan, namun kali ini gw ada di posisi paling depan dari rombongan, setelah selama perjalanan sebelumnya gw berada di posisi paling belakang. Kecepatan rata-rata dengan kondisi jalan gelap dan berliku hanya 40km – 50km per jam, kecepatan ini bertahan sampai sekitar beberapa kilometer menjelang Pelabuhan Ratu dan kecepatan mulai di tambah sampai dengan lokasi pom bensin untuk mengisi persediaan bahan bakar di tangki sekaligus beristirahat sejenak.

Setelah prosesi mengisi bahan bakar dan rehat kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini oom Bams ada di posisi paling depan dan gw di posisi paling belakang dari rombongan. Turunan dan tanjakan berliku sempat menyulitkan beberapa kawan dalam rombongan sehingga sempat terpisah menjadi dua rombongan. Memasuki Cikidang kabut menyambut kami di perkebunan teh, oom Bams dan oom Wahiud yang berada di rombongan terdepan mulai terlihat berjalan pelan. Gw sendiri langsung melaju ke depan untuk memimpin rombongan dengan maksud agar bisa lebih cepat melewati perkebunan teh yang berkabut itu, namun baru beberapa saat berada di depan, gw hampir saja terjebak pada sebuah tikungan yang cukup membahayakan, tikungan tersebut membawa gw berbelok ke arah kiri dengan santai dan berlanjut dengan belokan ke kiri lagi dengan lebih tajam, hampir saja gw masuk ke dalam jurang di depan tikungan tajam tersebut, Alhamdulillah semuanya bisa gw lewati, penurunan gigi dengan cepat sambil bermain setengah kopling dan sesekali menaikkan akselerasi agar ban belakang berputar untuk membantu gw berbelok dengan tajam bisa membuat gw menghindari hal yang gak gw inginkan tersebut. Sekali lagi, Alhamdulillah …

Pangkalan Ojeg Pertigaan Cikidang

papan petunjuk jalur alternatif Cikidang

Tak lama, akhirnya kami sampai di pertigaan Jalan Raya Bogor Sukabumi – Cikidang dan beristirahat sejenak. Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah sempat menyeruput kopi sebentar. Cimalati – Lido – Tajur – Bogor – Kedung Halang – Pemda Cibinong – Citayam kami lewati dengan lancar tanpa kendala, disini oom Mufron dan oom Bams berpisah untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Sedangkan gw, oom Wahid, oom Surya dan adiknya, serta oom Cakra lanjut ke Depok dan makan malam bersama di tempat Cak Kholil yang berada di depan bengkel Pauls Motor di jalan Margonda, Depok.

Setelah makan malam bersama usai, waktu menunjukkan sekitar pukul 00.30 WIB, kami berpisah untuk menuju rumah masing-masing dan beristirahat. Perjalanan kali ini gak akan gw lupakan, terutama karena akhirnya gw bisa melihat penyu secara nyata dan medan perjalanannya yang cukup berat untuk gw.

Berikut adalah illustrasi rute perjalanan kami, garis putus-putus warna hitam adalah rute keberangkatan, dan garis putus-putus warna merah adalah rute kepulangan.

peta-ujunggenteng-pangumbahan

gps-ug-2009

Jarak Tempuh berdasarkan GPS : 416km

Gw pribadi mengucapkan terima kasih kepada :

  • Allah SWT yang telah memberikan rezeki, keselamatan, dan kesehatan sehingga gw bisa melakukan perjalanan kali ini
  • Kedua orang tua gw yang akhirnya mengizinkan perjalanan gw ke Ujung Genteng, padahal di awal mereka menolak rencana gw itu
  • Si Panjul yang sudah dengan setia menemani dan tetap sehat selama perjalanan
  • Rekan-rekan seperjalanan gw, oom Bams, oom Wahid, oom Cakra, oom Mufron, oom Surya, dan adiknya
  • MILYS, Mailing List Yamaha Scorpio
  • Mailing List YVC (Yamaha V-ixion Club) yang telah menginsprirasi gw untuk memasukkan Ujung Genteng ke dalam daftar tujuan perjalanan
  • Pemilik rumah yang kami sewa rumahnya di Ujung Genteng, mereka sampai rela untuk tidur di warung sampai kami kembali pulang ke Depok lho, hihi …
  • Penduduk di Ujung Genteng yang telah membantu kami melewati medan berat menyeberang jembatan pohon kelapa
  • Penangkaran Penyu, Pantai Pangumbahan, yang telah memberikan informasi dan kesempatan yang sangat langka untuk kami melihat penyu bertelur sampai dengan melepasnya kembali ke laut
  • Pauls Motor Depok sebagai meeting point kami dan bersiap untuk berangkat
  • Blast Motorsport untuk perawatan pada si Panjul
  • Dan semua pihak yang mungkin lupa gw sebutkan di daftar ini, hehe …

Mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan atau penulisan nama dan tempat dalam Laporan Perjalanan ini.

3 Responses to Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, dan Pangumbahan – Jawa Barat : 31 Des. 2008 – 1 Jan. 2009

  1. blacknyam2 says:

    FYI ban gw bocor bukan karena kesalahan Tubeless nya, tetapi telah di temukan mata Cutter sepanjang 2cm di Ban luar,, jadi initinya Battlax BT 92 gw terkoyak niee,, huhuhuhu…

  2. khoent says:

    ummmmmmm … bukannya marenan di deteksi bocornya di daerah pentil tuh cak karena nimpa lubang? … arrrgghhhhhhhhhhhhh …

  3. blacknyam2 says:

    Waktu perjalanan Pulang kan gw nemuin mata cutter 2cm MAs di ban luar gw!! Gw juga udah contact safi pas ban gw sobek, dan gw seneng bgt after sales service nya memuaskan niee, dia mau ambil lagi velg gw buat di cek, malah sekarang dia mau nambelin ban gw biar gak keliatan tambelannya!! Mantabs dehh, anyway mendingan gw setel jari2 juga dehh,, hehehe….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: