Tongging dan Air Terjun Sipiso-piso : 8 Juli 2009

Seminggu setelah perjalanan ke Danau Toba melalui sisi kota Parapat, kali ini gw beserta 3 orang kawan menjelajah ke sisi lainnya, yaitu dari sisi kota Tongging. Perjalanan yang kami tempuh dengan menggunakan kendaraan mobil adalah sekitar 3 jam dari kota Medan, melewati Padang Bulan – Simbahe – Brastagi – Kabanjahe dan akhirnya sampailah di Tongging.

Tongging dari atas bukit

Karena kami sampai di lokasi pada saat melewati tengah malam, pemandangan perbukitan dalam kegelapan serta suara desir angin dan ombak mungil dari danau toba saja yang dapat kami rasakan. Dan akhirnya kami pun memutuskan untuk mencari penginapan dan bermalam disana hingga pagi hari nanti. Maka, menginaplah kami di Tongging Beach Hotel dengan biaya rp. 100.000,- per malam. Lumayan untuk menjadi tempat memejamkan mata sejenak menunggu pagi tiba.

Pagi hari gw terbangun cukup pagi, merasakan udara yang lumayan dingin disana. Langsung gw bersih-bersih diri seadanya dan menuju keluar penginapan. Segarnya udara pagi di Tongging. Rumput yang masih terasa basah oleh embun turut menyambut sendal butut gw menyusuri lapangan luas di depan penginapan, menuju ke arah jalanan, dan mulai mengambil beberapa photo di daerah situ.

Penginapan ...

Penginapan ...

Jalanan di Tongging

Tambak Ikan dan Eceng Gondok di Danau Toba ...

Perbukitan di sekitar Tongging ...

Sarapan di atas air ...

Tak lama, kawan-kawan yang menjadi teman perjalanan pun mulai keluar satu persatu dari kamar mereka dan kami pun sarapan bersama di atas sebuah saung di atas air di sisi danau Toba. Nikmatnya kami makan sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar situ.

Usai sarapan, kami sempatkan untuk bermain dengan bebek air dan mengayuh sampai beberapa jauh di sekitar pinggiran danau Toba. Agak minim sarana hiburan di Tongging, tapi ikan bakar, saung di atas air, udara segar, serta pemandangan alamnya mampu menghapus keminiman tersebut. Rekomen banget untuk rekan-rekan yang menginginkan tempat yang sepi namun cukup alami dan doyan makan ikan, hehe.

Menjelang tengah siang, kami berbenah untuk menuju air terjun Sipiso-piso. Kembali kami menyusuri jalanan pinggiran perbukitan yang berkelok-kelok selama sekitar setengah jam, dan itu juga termasuk melakukan satu kali sesi berphoto ria di pinggir jalan yang dibawahnya terletak kota Tongging.

Sesampainya di lokasi parkiran motor, langsung gw berlari ke arah suara gemuruh air, dan masyaAllah, air terjun yang indah dimana airnya jatuh dari lokasi yang sangat tinggi menyambut pandangan mata gw yang terbelalak kagum. Dahsyat lah pokoknya …🙂

Jalan setapak menuju air terjun

Air Terjun Sipiso-piso

sungai kecil bersama anak kecil, hihi ...

Dengan tidak sabar, kami menuruni jalan setapak yang berundak-indak yang sudah di buat cukup apik menyusuri sisi lembah menuju ke dasarnya. Perjalanan cukup nyaman meski ada beberapa titik jalan setapak yang agak curam dan sulit dilalui, namun akhirnya semua itu terlewati. Deburan air yang jatuh dari atas tebing sehingga percikannya membasahi tubuh kami membuat kami sempat repot melakukan sesi photo disana. Sempat pula gw bermain-main air di sungai yang mengalir dari bawah air terjun, serta duduk di bebatuan sambil kaki gw merasakan dinginnya air yang jernih, membuat gw semakin bersyukur pada Illahi bahwa gw masih di beri waktu untuk mengunjungi salah satu ciptaan-Nya ini. Alhamdulillah.

Puas bermain air, kami kembali menanjaki undakan-undakan tadi menuju ke atas lembah. Beberapa kali kami terpaksa rehat karena keletihan yang amat sangat. Lembahnya cukup dalam dan jalan menanjaknya pun cukup bisa membuat gw yang jarang olahraga ini tersiksa kaki. Tapi akhirnya semuanya pun usai kami jalani. Kami kembali ke parkiran mobil dan kembali meluncur di atas jalan raya.

Kami tidak langsung kembali ke Medan, tapi kami menuju ke Brastagi dulu, tepatnya di Gundaling, yaitu tempat wisata pegunungan dimana kami bisa melihat kota Brastagi dari atas bukit, serta kami sebelumnya memang sudah janjian dengan rekan-rekan dari Setang Lebar Community untuk jumpa dengan mereka di Gundaling karena mereka sedang mengadakan Touring. Oh iya, Sempat pula lho kami wisata kuliner di kedai Family. Enak.

Karena keterbatasan waktu, yang sedianya kami dan rekan-rekan Setang Lebar Community ingin berjumpa di Gundaling akhirnya urung dan dialihkan untuk jumpa di Penatapan. Sebuah tempat di sisi bukit dimana kita bisa melihat lampu kota Medan di malam hari. Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari Medan jika lancar arus lalu lintasnya. Kami dan rekan-rekan Setang Lebar Community sempat menikmati kopi panas dan jagung rebus atau bakar disana sambil berbincang-bincang tentang pengalaman kami selama perjalanan, dan akhirnya kami pun memutuskan untuk kembali ke Medan terlebih dahulu.

bersama rekan-rekan Setang Lebar Community di Penatapan ...

Sesampainya di Medan, tubuh letih dan loyo gw langsung menagih untuk di ajak istirahat. Capek tapi sangat memuaskan perjalanan kali ini.

Peta :

Tongging, Parapat, dan Danau Toba

Thanks to :

  • Allah SWT, yang telah memberikan rezeki dan kesehatan buat gw dan semua temen-temen.
  • Lubu, Nuke, dan Martin, teman seperjalanan gw kali ini.
  • Rekan-rekan Setang Lebar Community van Medan, you are the best guys …🙂.
  • Dan seluruh pihak yang telah membantu gw.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: