Jalan-jalan ke Pesta Danau Toba 2009 : 10 – 11 Oktober 2009

Beberapa minggu lalu, pada saat berjalan-jalan sore di tengah kota Medan, beberapa kali mata tertuju pada banner besar jika melewati lapangan Benteng. Tertulis jelas disana bahwa akan ada acara di danau Toba yang bertajuk ‘Pesta Danau Toba’ dan akan diadakan pada tanggal 7 – 11 Oktober 2009. Dalam hati pun langsung berniat untuk hadir. Setelah sedikit menerawang, akhirnya diputuskan untuk hadir disana pada hari sabtu atau minggunya saja karena tidak mungkin gw bisa hadir disana pada saat hari kerja.

Spanduk Pesta Danau Toba di Depan Inna Parapat

Seiring dengan waktu dan mencari informasi dengan beberapa kawan, yang akhirnya juga ingin ikut datang ke acara tersebut, akhirnya diputuskan keberangkatan ke danau Toba berubah menjadi tanggal 10 Oktober 2009 malam hari dan kepulangannya untuk kembali ke Medan diputuskan keesokan harinya.

Malam itu, sesuai dengan pembicaraan sebelumnya, akhirnya beberapa kawan berkumpul di rumah kost-an gw di belakang kantor. Empat buah motor telah terparkir dengan seadanya di depan rumah kost menunggu waktu untuk berangkat dan malam itu gw juga kedatangan beberapa orang kawan yang mampir untuk sekedar bertandang, serta langit sepertinya masih kurang bersahabat usai hujan yang cukup lama sejak sore tadi.

Setelah segala persiapan dilaksanakan, akhirnya peserta jalan-jalan malam itu yang terdiri dari : Oom Denny a.k.a Penyu dari Setang Lebar Brotherhood dengan Thunder 125 nuansa trail-nya, oom Iman dari Pertamina Motor Club – Medan dengan Supra X 125 putih-nya, oom Mufron dari Mailing List Yamaha Scorpio (MILYS) – Medan, yang kebetulan berdomisili di Medan seperti halnya gw, dengan menggunakan Beat, plus seorang boncenger, serta gw sendiri dengan si Panjul, mulai menyalakan mesin kendaraan kami dan bergerak menuju danau Toba sekitar pukul 23.15 WIB.

Malam itu sangat dingin usai hujan. Kami bergerak tidak bisa terlalu cepat karena licinnya jalan raya. Kecepatan kami hanya dibatasi di maksimum 80 kpj. Medan via SM. Raja – Tanjung Morawa – Perbaungan, dan terus meluncur sampai dengan Tebing Tinggi. Jalanan sangat sepi malam itu, jadi kami mampu bergerak relatif cukup konstan, hingga sekitar 2 jam perjalanan kami sudah bisa merapat di sebuah SPBU, yang terletak tidak terlalu jauh dari gerbang Selamat Datang kota Pematang Siantar, untuk melakukan pengisian bahan bakar kendaraan kami. Disini pula kami beristirahat sejenak sebelum meluncur kembali ke arah Parapat dimana danau Toba terdapat, yang gw perkirakan jaraknya sekitar 60 – 70 km dari tempat kami berada saat itu.

Usai rehat, kami pun meluncur kembali melewati kota Pematang Siantar serta jalan propinsi nuansa pegunungan bukit barisan dalam suasana gelap dan dingin. Tikungan, Tanjakan, serta turunan, menjadi kawan dan hiburan kami agar tidak mengantuk malam itu. Beberapa truk besar yang sepertinya menuju Sibolga atau Padang pun sempat kami temui dan lewati.

Sekitar pukul 03.00 dinihari di hari minggu tanggal 11 Oktober 2009, kami akhirnya sampai di kota Parapat yang terletak persis di pinggir danau Toba dan segera menuju sebuah warung makan untuk sekedar menghangatkan tubuh kami dengan makanan. Gw sendiri segera menyeruput teh manis panas serta mengganyang semangkuk mie rebus. Enak sekali.

Usai acara rehat dan makan, kami pun mencari informasi untuk bisa beristirahat. Akhirnya, kami putuskan untuk beristirahat di masjid yang terletak di samping kantor Polisi dan tak jauh dari pintu masuk, dengan alasan bahwa kami hanya butuh beristirahat sebentar dan saat itu sudah sangat sulit untuk mencari penginapan, serta sepertinya agak mubazir dan buang dana saja jika harus istirahat di penginapan, hehe. Ternyata di lokasi masjid yang sedianya akan kami jadikan sarana untuk beristirahat banyak juga yang berfikiran seperti kami. Banyak motor dan mobil yang berjejal di pelataran parkiran masjid, dan tentunya banyak juga orang yang tengah berada di sekitarnya. Karena kami harus segera bisa beristirahat setelah perjalanan tadi, akhirnya teras toko makanan di seberang masjid pun kami jadikan alternatif. Setelah memarkirkan kendaraan kami dan mengamankannya dengan baik, kami langsung meletakkan punggung kami di atas teras ubin yang dingin di pelataran toko makanan tersebut dan gw sendiri pun langsung tertidur lelap.

Pagi menjelang, gw dibangunkan oleh oom Mufron karena toko makanan akan segera di buka. Bergegas kami bersiap-siap untuk mencari sarapan. Dan lokasi yang kami pilih adalah warung di pinggir jalan sekitar 2 km sebelum memasuki kota Parapat dari Pematang Siantar. Warung di pinggir tebing dengan pemandangan danau Toba dari atas. Indahnya …

Menyeruput kopi panas di atas sisi danau Toba

rekan-rekan perjalanan ...

Setelah dua gelas kopi sudah masuk ke dalam perut, kami pun memutuskan untuk turun kembali ke tengah kota di bawah sana. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 08.45 WIB saat kami berada di alun-alun di seberang hotel Inna Parapat, dimana alun-alun ini sepertinya dijadikan pusat kegiatan Pesta Danau Toba. Dan di sebelah alun-alun ini, terdapat sebuah gedung yang dijadikan pusat kegiatan untuk pameran UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Penjaja jajanan dan oleh-oleh yang berada di sekitar lokasi pun sudah cukup ramai dikunjungi pengunjung yang menjadi calon pembeli dagangan mereka.

Alun-alun di seberang Inna Parapat

Ramai khan?, sudah banyak yang parkir padahal hari masih pagi ...

Sempat pula kami mampir dan sedikit berphoto ria di depan sebuah bangunan yang mirip Villa di pinggir sisi lain danau Toba ini. Konon kabarnya, bung Karno pernah tinggal di bangunan tersebut. Momen yang tak boleh dilewatkan, langsung memphoto si Panjul dengan latar belakang bangunan tersebut, hehe.

Panjul n Villa (yang konon kabarnya) Bersejarah ...

oom Penyu dan oom Iman beserta tunggangan mereka ...

Puas berkeliling dan jalanan sudah semakin ramai, kami memutuskan untuk kembali ke Medan karena sudah cukup puas melihat-lihat keramaian. Kami lalu menuju sebuah SPBU dan mengisi bahan bakar tunggangan kami disana. Disini, gw mengisi tangki si Panjul dengan 5.4 liter Pertamax. Artinya, dari Medan ke Parapat dan berputar-putar di kota semenjak tadi pagi, si Panjul kira-kira telah menghabiskan bahan bakar sebanyak dengan yang telah diisikan ke tangkinya saat ini.

Usainya, kami langsung meluncur melewati tempat kami sarapan tadi dan terus maju sekitar beberapa kilometer. Sempat kami melewati segerombolan monyet liar yang bermain-main di pinggir jalan sambil berharap para pengguna jalan yang melewati mereka mau melemparkan sedikit makanan. Sayangnya memori di kamera hanya tinggal sedikit, jadi sepertinya tingkah polah mereka tidak bisa gw abadikan dulu dengan kamera saku ini.

Seperti yang telah dibicarakan tadi pagi bahwa kami pulang kembali ke Medan tidak melalui Pematang Siantar lagi, melainkan melewati Simarjarunjung dan Brastagi, akhirnya di sebuah pertigaan yang tak jauh dari berkumpulnya monyet-monyet liar yang tadi, kami berbelok ke arah kiri. Disini kami menyusuri jalanan yang lebarnya lebih kecil dibandingkan jalan di jalur Pematang Siantar – Parapat. Kondisi jalan cukup baik, namun masih kerap di temui lubang kecil di jalan dan tikungan landai yang agak berpasir, membuat kami tetap harus ber-ekstra hati-hati. Kendaraan yang melewati jalur ini pun terhitung sangat sedikit dan sepi, sehingga jika malam hari ingin melewati jalur ini maka akan lebih baik jika dipikirkan dulu baik-baik dan lebih jauh lagi.

Bagi pencinta kehijauan dedaunan, jalur ini cukup memanjakan mata. Sejauh mata memandang di sebelah kanan, banyak terdapat pemandangan indah dari pepohonan pinus dan perkebunan masyarakat di sana. Dan memandang di sebelah kiri, terlihat indahnya danau Toba yang berwarna biru dan sangat indah. MasyaAllah, indah sekali ciptaan-Mu ini ya Allah …

Sekitar satu jam perjalanan, kami sampai di sebuah tikungan yang cukup dekat dengan sisi danau Toba. Letaknya pun cukup tinggi seperti di atas tebing. Disini kami bersantai sejenak sambil berbincang-bincang, berphoto ria, dan membicarakan perjalanan tadi. Indahnya suasana membuat oom Penyu bermimpi untuk memiliki tanah dan rumah di daerah itu. Namun, sepinya lokasi membuat dia akhirnya urung dengan mimpinya itu, hehe.

si Panjul

gw n si panjul ...

santai di pinggir tebing ...

Usai rehat, kami kembali melajukan kendaraan kami. Kota-kota kecil pun kami lewati mulai dari Simarjarunjung – Tiga Panah – Tiga Runggu – Kabanjahe (kota kabupaten Karo) – Brastagi. Antara kota Simarjarunjung dan Kabanjahe kami sempat beristirahat di sebuah SPBU karena oom Mufron harus mengisi bahan bakar Beat-nya, serta gw yang perlu tiduran sebentar karena di dera sakit perut dan masuk angin karena tidak sarapan tapi malah menyeruput banyak seduhan kopi tadi pagi, hehe, my mistake …

Dan akhirnya kami beristirahat kembali di suatu tempat selepas Brastagi yang mirip dengan Puncak, Jawa Barat, yang bernama Penatapan. Gw bilang mirip, karena warung-warung tempat bersantai disini letaknya berada di sisi jalan dengan pemandangan ke arah kota Medan jauh dari atas gunung. Letaknya sekitar 60 km dari kota Medan.

mie rebus bonus pemandangan indah ...

Semangkuk mie rebus dan segelas kopi pun menjadi kawan rehat gw saat itu. Entah kawan-kawan yang lain menyantap apa. Disini kami beristirahat sekitar setengah jam sambil mata terkantuk-kantuk.

Usainya, kami kembali melaju dalam kondisi jalan yang berliku dan menurun dalam suasana jalan pegunungan menuju kota Medan melewati Greenhill di Sibolangit, lalu Simbahe, dan akhirnya kami semua kembali memasuki kota Medan dan kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Perjalanan yang di tempuh dalam jalan-jalan kali ini adalah hanya sekitar 417 km menurut tripmeter si Panjul. Isi bensin pun dilakukan sebelum tadi memasuki gerbang kantor dan si Panjul kembali mengisi bahan bakar sekitar 5.2 liter Pertamax. Artinya, jika dijumlahkan dengan sebelumnya, bahan bakar yang dibutuhkan dalam perjalanan kali ini adalah sekitar 10.6 liter. Jika dikalkulasikan, maka 1 liter bahan bakar dapat digunakan untuk menempuh sekitar 39km. Lumayan juga iritnya yah?.

Cuma yang kurang gw habis pikir adalah setahu gw perjalanan dari Medan ke Parapat via Pematang Siantar adalah sekitar 170 – 180 km, maka artinya jarak perjalanan dari Parapat ke Medan via Simarjarunjung berbeda sekitar 50 km, padahal jika melihat secara kasat mata di peta, sepertinya jalan via Pematang Siantar lebih memutar. Kemungkinan besar, jalan berliku-liku yang kami lewati pada saat via Simarjarunjung sepertinya hanya digambarkan sebagai garis lurus saja di peta, sehingga perjalanan terlihat lebih singkat. Tidak seperti kondisi sebenarnya di perjalanan. Ini menurut analisa serampangan gw aja lho. Entahlah, hihi.

Peta Medan - Danau Toba

Thanks to :

  • Allah SWT, yang telah memberikan rezeki dan kesempatan
  • Oom Mufron, oom Penyu, dan oom Iman, yang telah menemani perjalanan kali ini
  • Pemilik toko makanan di seberang masjid At-Takwa, Parapat, kami sempat pinjam terasnya untuk beristirahat
  • Semua pihak yang telah membantu kami dalam perjalanan kali ini

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: