Baksos Tugu Nol KM dan Keliling Propinsi NAD : 22 – 27 April 2011

Perjalanan kali ini sungguh tidak terduga hasilnya, karena pada awalnya gw hanya berencana untuk sekedar hadir di acara baksos di Tugu Nol Kilometer -sekaligus temu kangen dan pamitan dengan kawan-kawan di pulau Weh, sebab dalam waktu lama mungkin akan sulit untuk bisa berkunjung ke pulau istimewa ini lagi karena akan berpindah lokasi kerja ke kota lain-, memenuhi kewajiban tugas di kota Meulaboh, memenuhi mimpi melihat Danau Laut Tawar di Takengon, dan kembali menyusuri jalur lintas timur menuju medan. Namun menjelang akhir perjalanan semua rencana itu berubah dan akhirnya gw malah berkeliling propinsi Nangroe Aceh Darussalam menyusuri pesisir pantai timur dan barat, serta membelah sebahagian pegunungan bukit barisan untuk bisa membuat satu lingkaran penuh. Sebuah mimpi yang sebelumnya sempat terlintas namun terpaksa pernah diurungkan karena kesulitan mencari waktu yang tepat dan juga karena ada alasan pribadi lainnya.

Jum’at, 22 April 2011
Setelah persiapan secukupnya di malam sebelum keberangkatan, dimana sidebox berisi pakaian untuk bekal selama perjalanan nanti, serta tailbag berisi perkakas dan beberapa spare parts cadangan untuk si Panjul, telah terpasang rapi dan terikat, dan tak lupa helm putih bermerk INK yang berlogo MILYS (Mailing List Yamaha Scorpio) yang bertuliskan nama dan nomor registrasi keanggotaan di komunitas, akhirnya sekitar pukul 08.30 WIB gw dan panjul pun mulai menyusuri aspal menuju luar kota Medan ke arah Binjai. Seharusnya perjalanan kali ini gw ada kawan yang menemani, namun karena beliau ada tugas dari tempatnya bekerja maka perjalanannya menemani gw terpaksa dibatalkan. Tapi gak papa, toh gw emang sudah cukup sering nyasar sendirian bersama salah satu dari sahabat-sahabat roda dua milik gw sebelumnya, hehe.
Kota-kota di sepanjang jalur lintas timur sampai dengan perbatasan propinsi Sumatera Utara – Aceh yang umumnya cukup besar pun mulai terlewati satu persatu, hingga akhirnya sekitar pukul 11.00 WIB gw tiba di kota Langsa dan mampir sejenak untuk rehat di sebuah rumah makan milik seorang kawan yang akhirnya dijadikan tempat rehat resmi oleh kawan-kawan bikers dari Milys Depok, Jawa Barat, pada saat mereka melakukan perjalanan panjang dari Depok ke Tugu Nol Kilometer di akhir tahun 2010 lalu.
Usai rehat, kembali gw melaju menuju kota berikutnya, Lhokseumawe. Di kota ini gw kembali berisirahat, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, serta mengisi cadangan bahan bakar si Panjul. Tak buang waktu karena tidak ingin kemalaman sampai di kota Banda Aceh, gw kembali melajukan sahabat gw ini. Kota Peureulak, Bireun, dan Sigli pun terlewati tanpa kendala. Dan akhirnya kembali gw harus mengisi cadangan bahan bakar si Panjul di sebuah SPBU menjelang kota Sare, yang terletak di bahu gunung Seulawah -merupakan daerah wisata bernuansa pegunungan seperti di Puncak, Jawa Barat-, tangki sang sahabat pun terisi penuh kembali dan kami kembali menyusuri jalan yang berkelok-kelok sambil menikmati indahnya pemandangan dan segarnya udara sore itu menuju kota Banda Aceh.
setelah melaju sekitar lebih dari satu jam, akhirnya sampailah kami berdua di kota Banda Aceh, waktu menunjukkan sekitar pukul 19.00 WIB saat itu, langsung gw mencari lokasi yang enak untuk rehat dan segera menghubungi beberapa kawan di kota tersebut. Beberapa kawan berhasil dihubungi dan akhirnya malam itu gw menginap di sebuah ruangan di studio Radio KISS FM Banda Aceh, tempat dimana seorang rekan biker -oom Ichwan “Iwan” Affandy- tinggal dan bekerja sebagai penyiar, di antar pula oleh oom Heri “sikembar” dan oom Vijey. Mereka semua adalah rekan-rekan biker dari Yamaha Scorpio Club NAD dan juga anggota dari MILYS. Thanks guys.

Sabtu, 23 April 2011
Pagi pun tiba, gw harus bergegas menuju pelabuhan Ulee Lheue jika tidak ingin terlambat naik kapal untuk menyeberang ke pulau Weh. Bersih-bersih sekedarnya, shalat Shubuh, memanaskan mesin si Panjul sambil memasang sidebox dan tailbag, dan langsung bergegas menuju ke pelabuhan. Dan benar saja, meskipun sudah berangkat cukup pagi, antrian kendaraan sudah terlihat cukup panjang, dan si Panjul harus pasrah berada di barisan paling belakang, hiks. oh iya, oom Iwan (panggilan akrab dari oom Ichwan Affandy), akhirnya memutuskan untuk ikut untuk menemani gw ke pulau kecil di seberang sana, yang merupakan tempat yang sangat istimewa buat gw, karena waktu beliau cukup senggang sampai dengan hari senin nanti.

Usai memarkirkan si Panjul dalam barisan, gw bersama oom Iwan mulai ber-antri ria membeli tiket untuk naik ke kapal Ferry. Disini gw agak menyesalkan tentang perilaku malas antri dan saling menyelak antar pengantri, sampai ada seorang turis asing yang tadinya berada di barisan tengah akhirnya menjadi berada di bagian belakang. Duh. Maafkan kebiasaan kurang baik dari teman-teman se-negara gw itu yah mister?.

Tiket sudah di tangan, dan kami siap menyeberang. Bersama kami juga ikut terlihat ikut masuk ke dalam kapal, rombongan rekan-rekan biker dari berbagai klub atau komunitas yang berniat untuk melakukan bakti sosial di Tugu Nol Kilometer, tapi gw ndak terlalu hapal nama-nama klub atau komunitasnya, maafkan daya ingat saya yang konsumsinya untuk hal lain yah?, hehe.
Waktu untuk menyeberang pun tiba, kapal yang kami naiki mulai bergerak ke arah sebuah pulau kecil di seberang pulau Sumatera. Itulah pulau Weh yang akan menjadi tujuan kami semua yang berada di dalam kapal ini, tempat dimana kota Sabang dan Tugu Nol Kilometer berada. Sudah kali ketiga gw ke pulau Weh, namun rasa antusias pada saat menuju kesana sepertinya tidak berkurang sedikitpun.

Sekira dua jam kapal melaju perlahan di atas laut, menurut perangkat GPS sih kapal yang gw naiki ini melaju di kecepatan 15kpj (jika tidak salah ingat saat iseng menyalakan GPS di atas kapal). Dan akhirnya sampailah kami semua di pelabuhan Balohan di pulau Weh dan si Panjul pun langsung berlari dengan riang gembira keluar dari lambung kapal Ferry (lebay, hehe).

Para biker berkumpul sejenak di halaman parkir pelabuhan, dan akhirnya setelah berkoordinasi satu sama lain diputuskan untuk berkumpul nanti di kota Sabang setelah kami menyelesaikan urusan masing-masing. Gw sendiri menuju kota Sabang untuk sekedar mengisi perut. Laper cuy, tumben banget nih. Usai bersantap, kembali kami berkumpul dan bersiap-siap, dan tak lama kami mulai menyusuri 22km dari kota Sabang menuju titik terbarat Indonesia di Tugu Nol Kilometer. Baru sekira beberapa kilometer melaju, hujan turun mendera kami, gw terpaksa harus berhenti demi menyelamatkan sekumpulan gadget yang berteriak panik di dalam tas (lebay, hihi) dan dengan segera mengenakan jas hujan andalan, untuk kemudian kembali menyusul rombongan yang meninggalkan gw. Dan akhirnya sampailah kami semua di depan Tugu Nol Kilometer. Rasa syukur kepada Illahi kembali berdendang di hati, mensyukuri nikmat atas kesempatan dari-Nya yang telah diberikan sehingga gw bisa kembali ke tempat ini.
Pandangan mata berkeliling, banyak rekan-rekan biker peserta baksos yang masih bekerja membersihkan dan merapikan Tugu Nol Kilometer, beberapa pun juga tengah asik mengecat pinggiran dindingnya. Hari kedatangan gw saat itu adalah hari kedua kegiatan baksos. Dan mohon maaf sepertinya gw sendiri pun tidak bisa berbuat banyak di lokasi.

Sore harinya, para peserta baksos mulai turun satu persatu dari Tugu Nol Kilometer menuju pantai Iboih untuk membersihkan diri. Pantai ini merupakan yang terdekat dari Tugu Nol Kilometer, kira-kira terletak sekitar 8km dari Tugu. Di pantai ini pun akhirnya gw memutuskan untuk menginap. Keletihan dan sempat terkena hujan selama perjalanan beberapa kali membuat badan menjadi agak kurang cihuy. Rekan-rekan biker yang lain sebagian besar memutuskan untuk menginap di samping Tugu Nol Kilometer, bahkan oom Iwan yang tadinya ingin menginap di pantai Iboih bersama gw pun akhirnya juga menetapkan hati untuk bergabung dengan rekan biker yang lain dan menginap di Tugu Nol Kilometer dan meluncur sendirian tengah malam. Two thumbs up, terlalu berani eui. Untuk menuju ke Tugu Nol Kilometer setelah pantai Iboih ini, jalanan berliku yang berkelok-kelok tajam dan sempit, menanjak, serta pepohonan yang menutup pekat khas hutan tropis yang layaknya tak tersentuh tangan manusia, menjadi pemandangan khas menuju kesana. Siang hari saja kadang agak seram untuk menuju ke atas sana, apalagi tengah malam seperti itu.

Minggu, 24 April 2011
Pagi pun datang setelah malam harinya gw bisa tidur dengan sukses. Lokasi sekitar tempat menginap yang hening dan hanya terdengar suara deburan ombak semalam membuat gw bisa tertidur dengan cepat, tidak seperti keseharian gw di Medan yang penuh dengan hiruk pikuk karena tempat kediaman gw tinggal berada tepat di samping jalan raya yang ramai. Dengan antusiasme yang cukup untuk bisa melawan rasa kantuk, gw pun keluar kamar dan mengambil beberapa photo sunrise sekedarnya dengan menggunakan kamera dari sebuah handphone. Semoga cukup bisa mewakili apa yang gw lihat di pagi hari itu.

Usai mengambil beberapa photo, akhirnya gw mulai membersihkan diri dan bersiap menuju kembali ke Tugu Nol Kilometer lagi. Demam yang sebelumnya ada pun mulai agak mereda. Sesampainya di Tugu Nol Kilometer, ternyata sudah ada beberapa wajah yang cukup familiar, ada bang Kidal, biker yang berdomisili di pulau Weh, pak Sofyan dan oom Eka dari Yamaha Scorpio Club NAD, dan juga tante Liza yang sebelumnya gw kenal karena pernah berkunjung ke kediaman gw di Medan beberapa lama lalu. Demikian juga dengan beberapa biker yang telah gw jumpai sehari sebelumnya. Ramai sekali pagi hari menjelang siang saat itu.
Kembali gw mengambil beberapa photo di sekitar Tugu Nol Kilometer yang kini sudah lebih rapi dan bersih, dan tanpa gw ada sumbangsih tenaga dalam prosesi bakti sosial beberapa hari ini. Maaf yah?, hiks. Salut dan terima kasih untuk rekan-rekan yang berada di lokasi terlebih dahulu dan telah turun tangan menyumbangkan keringat serta waktunya.

Menjelang tengah hari, kami semua pun meluncur turun menuju kota Sabang, beberapa dari kami harus segera menuju ke pelabuhan untuk kembali menyeberang ke pulau Sumatera. Gw sendiri memutuskan untuk bermalam kembali dan baru akan pulang esok pagi. Oom Iwan yang memiliki waktu agak senggang karena tidak ada jadwal siaran pun akhirnya mau menemani gw malam itu di kota Sabang. Penginapan pun sudah di dapat, yaitu sebuah penginapan yang bernama Calok yang berada di dekat installasi militer Angkatan Laut. Aman.
Sore hari itu kami isi kegiatan dengan santai menikmati pemandangan di pinggir tebing yang mengarah ke laut lepas di daerah Sabang Fair, tak jauh dari penginapan. Dan malam harinya kami bertamu ke kediaman kak Ita dan bang Kidal, yang kebetulan juga sedang menerima tamu beberapa biker yang mana di antaranya ada seorang biker dari HMPC Lampung, oom Aan, mohon maaf kembali untuk rekan-rekan biker yang lain karena gw agak sulit mengingat semua namanya. Kami juga sempat makan malam bersama dan saling memilah serta berebut souvenir berupa tshirt, stiker, dan pin yang bertema nuansa pulau Weh.
Malam pun datang, kami harus pamit untuk rehat agar supaya besok bisa bangun pagi dan tidak terlambat menuju ke pelabuhan Balohan untuk menaiki kapal penyeberangan kembali ke pulau Sumatera.

Senin, 25 April 2011
Sekitar pukul 5 dinihari gw dan oom Iwan sudah terbangun, langsung bersiap-siap dan segera meluncur ke pelabuhan Balohan. Alhamdulillah, motor kami bisa berada di antrian agak terdepan. Tiket pun bisa segera terbeli. Dan kami pun memulai sesi sarapan sampai akhirnya ada pemberitahuan bahwa kami harus segera memasukkan kendaraan yang kami bawa ke dalam lambung kapal. Happp, masuklah kami semua ke dalam kapal.
Tak lama, oom Iwan mengabarkan bahwa kak Ita sedang dalam perjalanan ke pelabuhan untuk nenemui kami sebelum menyeberang, dan kami pun menunggu dengan santai di ujung jembatan yang menjadi penghubung antara kapal Ferry dengan daratan. Kak Ita pun datang bersama beberapa rekan biker lain, dan di sini gw berkenalan dengan oom Rizal, biker dari Yamaha Vixion Club Tapak Tuan (YVC KN, KN disini maksudnya adalah Kota Naga, mengapa tidak menggunakan TT sebagai singkatan Tapak Tuan karena singkatan TT telah terlebih dahulu digunakan oleh rekan-rekan YVC dari Tebing Tinggi, demikian seingat saya penjelasan dari oom Rizal).
Beberapa kali peluit kapal berbunyi, kami yang akan menyeberang segera berpamitan kepada kak Ita dan rekan yang masih akan tinggal di pulau Weh. Dan kembali gw harus mengucapkan Sampai Jumpa Lagi kepada pulau istimewa itu. Semoga suatu saat gw punya kesempatan untuk bisa berkunjung lagi kesana.
Sekitar dua jam kemudian, kapal penyeberangan yang kami naiki akhirnya merapat di pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh, si Panjul dengan sigap langsung meloncat keluar dari kapal dan segera kami meluncur menuju arah luar kota Banda Aceh mengarah ke utara di pesisir pantai baratnya. Rencananya, kami akan menuju ke tempat oom Eka dari Yamaha Scorpio Club NAD untuk sedikit perbaikan dan kesiapan si Panjul di sisa perjalanan untuk kembali ke Medan, terutama di bagian rantai yang sudah sangat kendor dan juga penguatan bagian sidebox yang besi penahannya telah hilang dan jatuh entah dimana pada saat perjalanan ke Banda Aceh beberapa hari yang lalu.
Di tengah perjalanan menuju tempat oom Eka, kami bertemu dengan oom Heri yang juga ingin menuju ke lokasi yang sama. Dan akhirnya sampailah kami di lokasi tempat oom Eka berada. Langsung kami sibuk mengganti rantai si Panjul yang sebelumnya telah dititipbelikan kepada oom Heri. Tak lama pak Sofyan pun muncul membawa besi penyangga sidebox yang gw butuhkan, pasang beramai-ramai ke si Panjul, tak lupa merapikan bagian rem cakram belakangnya, dan akhirnya si Panjul siap untuk meluncur kembali. Terima kasih dari kami khusus untuk rekan-rekan Yamaha Scorpio Club NAD dan Milys di Banda Aceh atas pertolongan, keramahan, dan kebaikan hatinya.
Di tengah rehat usai perbaikan si Panjul, oom Rizal dari YVC KN yang sebelumnya bertemu di atas kapal penyeberangan tadi pun datang bersama rekan-rekannya, terhitung sekitar 8 motor yang terdiri dari 6 Yamaha Vixion (YVC Banda Aceh, YVC KN, YVC Pidie, dan YVC Lhokseumawe) dan 2 Honda Tiger (Honda Tiger Club Tapaktuan, HTCT) datang ke lokasi tempat gw berada saat itu. Langsung gw berpamitan kepada pak Sofyan dan kami semua meluncur di atas jalan raya yang lebar dan mulus menyusuri pesisir pantai barat Banda Aceh. Bersama kami juga ikut oom Eka, dan oom Iwan yang akan melepas kami di Gerutee, sebuah daerah wisata di atas perbukitan yang mengarah ke laut lepas di pesisir pantai barat sebelum memasuki kota Loknga.

Perjalanan yang sangat nyaman di atas aspal yang lebar dan mulus serta pemandangan indah di sepanjang jalan sampai dengan ke Gerutee membuat gw merasa tidak sedang riding di negeri sendiri seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya selama ini. Nyaman sekali rasanya. Tak terasa sampailah kami di Gerutee, setelah sebelumnya melalui jalan yang lurus dan nyaman diikuti jalan menaiki perbukitan yang berkelok-kelok.
Di Gerutee ini kami menyempatkan diri untuk bersantai sejenak memandang beberapa pulau di kecil di laut lepas pesisir barat Aceh. Sempat pula melihat adegan betapa manusia pun bisa bersahabat baik dengan alam, dimana saat kami santai sejenak itu beberapa ekor kera (mungkin sejenis lutung) dengan santainya menghampiri warung dan berinteraksi dengan pemilik warung dan pengunjungnya untuk meminta makanan tanpa was was akan di terkam. Sepertinya para pemilik warung dan pengunjung sudah saling terbiasa satu sama lain dan ini bisa menjadi keunikan tersendiri di lokasi wisata Gerutee.

Rehat usai. Kami saling bersalaman untuk berpisah sementara sampai ada umur dan waktu senggang di masa depan untuk bisa berjumpa lagi. Tak lama, tujuh kendaraan beroda dua yang berbeda varian itu pun kembali meluncur di atas aspal. Kota tujuan gw berikutnya adalah kota Calang, sedangkan rekan-rekan seperjalanan yang lain adalah ke kota Tapaktuan. Di antara kota Loknga yang terletak di bawah puncak perbukitan dimana Gerutee berada sampai dengan kota kecil yang bernama Patek (sekitar 28km sebelum kota Calang), kemampuan serta kesabaran dan ketabahan gw di uji cukup berat, rekan seperjalanan yang lain mungkin sudah terbiasa, tapi buat gw, ini adalah pengalaman yang pertama kalinya. Terhitung dua kali menyeberangi rakit kecil sambil tetap berada di atas motor dengan minim pengaman dari resiko, jalan berlumpur, jalan berpasir pantai yang untungnya tengah padat saat kami lewati, jalan berkerikil cukup besar dan dalam selayaknya jalan baru akan mulai di aspal, dan beberapa kombinasi kondisi jalan lainnya membuat gw cukup keletihan dan sempat geleng-geleng kepala. Tapi semangat untuk terus bisa melewati ini semua insyaAllah pantang surut. Gw harus bisa.

Sekira dua jam lebih perjalanan melewati tantangan seperti yang terpapar sebelumnya, akhirnya kami semua sampai di kota Patek, kami sejenak berhenti untuk rehat dan makan siang, juga tak lupa menunaikan kewajiban kami sebagai muslim untuk shalat. Disini gw juga sempat menghubungi oom Reza, seorang anggota MILYS yang menetap di kota Calang, dan berkoordinasi untuk mengatur pertemuan. Dan seusai semua hal di atas di lakukan, akhirnya kami melaju kembali.
Sekira beberapa puluh menit kami melaju, tiba-tiba sebuah Yamaha Mio melesat di samping gw dan berusaha untuk mendahului kami semua. Awalnya gw gak terlalu menaruh perhatian, namun begitu melihat bahwa jaket dan helm yang dikenakan sang pengendara terlihat sangat familiar dengan komunitas MILYS, langsung gw tersadar. Yah ampyun, pengendara Yamaha Mio itu ternyata oom Reza. Langsung si Panjul gw larikan kencang mendahului pemimpin rombongan dan memberi tanda untuk mengurangi kecepatan dan berhenti. Fiuhhh ..
Salam hangat dan jabat tangan mulai mengalir antara oom Reza dengan seluruh rombongan. Usainya, gw pun menghaturkan terima kasih dan salam perpisahan untuk sementara kepada seluruh rombongan untuk berjumpa kembali di kota Tapaktuan nanti. Gw rencananya akan menuju kota Meulaboh terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan dari perusahaan yang mempekerjakan gw di kota itu.

Usai rombongan berlalu, gw mengikuti kendaraan yang dinaiki oleh oom Reza ke tempat tinggalnya. Di halaman depan tempat tinggal yang juga sekaligus tempat usaha oom Reza, kami berdua ngobrol sembari memperbaiki kaki belakang si Panjul yang agak kurang sempurna pemasangannya. Sembari juga sang putra dari oom Reza, tengah asyik bermain di sekitar kami yang tengah berbincang. Tak terasa waktu berlalu, gw sudah harus bergerak lagi supaya tidak terlalu larut malam sampai ke kota Meulaboh. Sekitar pukul 18.30 WIB gw pun sudah bergerak kembali di jalan raya yang mulai sepi, di dera hujan hampir di sepanjang perjalanan melewati sedikit hutan dengan tikungan dalam kegelapan serta beberapa pemukiman yang tak jarang sangat sepi tanpa terlihat penghuninya, dan akhirnya sampai di kota Meulaboh sekitar pukul 20.00 WIB.
Di kota inilah gw akan menginap untuk beristirahat sejenak malam ini yang malam itu terus saja hujan hingga gw terlelap kelelahan.

Selasa, 26 April 2011
Pagi menjelang di kota Meulaboh, gw segera bersiap untuk menuju lokasi kerja, melakukan pengecekan terhadap infrastruktur tower dan radio, jaringan data, dan beramah tamah dengan rekan-rekan kerja di sana. Asyik sepertinya bekerja di tempat yang jauh dari keramaian seperti ini. Usai pekerjaan dilaksanakan, gw pun segera bersiap kembali. Dan sekitar pukul 14.00 WIB, gw dan si Panjul pun kembali meluncur di atas aspal menuju kota tujuan kami berikutnya, yaitu Tapaktuan, sebuah kota yang berada sekitar 450km dari kota Banda Aceh atau sekitar 230km dari kota Meulaboh tempat gw berada saat itu.
Sepanjang perjalanan yang hujan cukup deras dan tanpa henti membuat gw agak kesulitan untuk melajukan sahabat gw itu untuk sedikit lebih kencang. Celana jas hujan gw pun mulai berkurang mutunya setelah pemakaian beberapa tahun terakhir ini. Tapi perjalanan masih cukup panjang. Daerah pesisir barat Aceh sangat indah untuk dinikmati meski dalam suasana hujan dan cukup bisa menghibur gw. Dan akhirnya sekitar pukul 17.30 pun gw memasuki kota Tapaktuan.
Saat melaju perlahan di tengah kota untuk mencari penginapan, tiba-tiba seorang penunggang Honda Tiger menyalip si Panjul dan memaksa kami untuk menepi, ternyata sang penunggang macan tadi adalah oom Berry dari HTCT (Honda Tiger Club Tapaktuan), biker yang kemarin berperan sebagai Fore-rider (foreijder) dalam rombongan kemarin antara Banda Aceh – Calang. Beliau melihat gw yang melintas di depan rumahnya bersama si Panjul. Dan tak lama, gw pun di pandu untuk berkumpul bersama rekan-rekan biker yang kemarin bersama dalam perjalanan, lalu malam harinya menikmati nikmatnya kopi sambil berbincang-bincang di kedai pinggir pantai, dan malam harinya menginap di kediaman oom Berry. Wah, enaknya ..

Rabu, 27 April 2011
Pagi harinya gw pun terbangun dengan badan segar, membersihkan diri dan berpakaian, lalu ikut bersama oom Berry untuk mencari sarapan di dekat kantor tempatnya bekerja, sambil sempat pula mampir ke dermaga kota Tapaktuan dan menjelaskan beberapa legenda seputar kota tersebut serta menunjukkan lokasi-lokasinya. Menu pagi itu adalah nasi gurih lengkap dengan lauk pauknya, mantab sangat eui, meski kami sempat berpindah tempat sejenak untuk makan di lokasi lain.
Dikarenakan kesibukan oom Berry yang harus bekerja, pagi menjelang siang itu gw diantarkan menuju tempat dimana oom Fahrun (rekan dari YVC Lhokseumawe, jika tidak salah mengingat) menginap. Gw menunggu disini sampai dengan menjelang siang, saat oom Rizal datang dan mengajak gw mengunjungi lokasi yang sebelumnya telah dijelaskan oleh oom Berry tadi pagi di dermaga.
Pertama-tama kami menuju daerah dermaga kota Tapaktuan, menyusuri pinggiran jalannya, dan memarkirkan kendaraan di belakang sebuah kantor pemerintah. Sayang sekali tempat parkirnya kurang cukup bersih, tapi ndak papa. Gw lalu di ajak menyusuri jalan setapak di sisi pantai yang kemudian berubah menjadi berbatu tajam dan cukup sulit di lalui. Dan akhirnya di depan mata gw tergambar sebuah tapak kaki raksasa yang menurut taksiran gw panjangnya sekitar 5-6 meter dan lebarnya sekitar 1.5 – 2.5 meter, wow, kira-kira setinggi apa yah manusia pemilik tapak kaki tersebut. Lalu oom Rizal pun menceritakan sedikit legenda tentang kota Tapaktuan, tentang pertapa yang di sebut sebagai Tuan Tapa, Putri Tidur, dan Naga. Yah, kota Tapaktuan kadang disebut juga sebagai Kota Naga. Sepulangnya dari mengunjungi Tapak tuan Tapa, gw pun di ajak melihat makam dari tuan Tapa sendiri, takjub juga melihat ukurannya yang konon panjangnya adalah sekitar 7 meter.

Usainya, kami lalu menuju ke lokasi wisata pemandian Air Sejuk. Di lokasi ini terdapat sebuah sungai yang tidak terlalu lebar dengan air yang mengalir cukup deras. Di lokasi ini gw melihat beberapa rekan YVC dari berbagai daerah di propinsi NAD tengah asik berendam dan berenang-renang. Dan usainya, gw cukup beruntung untuk bisa melihat prosesi pengukuhan keanggotaan ala YVC NAD (semoga ndak salah tulis, hihi).

Tengah siang pun datang, gw harus berangkat menuju kota Medan hari ini juga karena pekerjaan sudah menunggu di keesokan harinya disana. Rekan-rekan YVC yang berada di lokasi wisata Air Sejuk pun berkenan mengantar gw menuju batas kota. Dan kembali gw merasa beruntung, karena batas kota dimana mereka akan melepas gw adalah berupa sebuah gedung yang merupakan prasasti napak tilas salah satu tokoh kebanggaan negeri ini, yaitu Bung Hatta, salah satu proklamator pengukuh Republik Indonesia. Alkisah diceritakan bahwa pada masa setelah kemerdekaan di tahun 1945, Bung Hatta melakukan perjalanan panjang menyusuri Propinsi NAD untuk semakin mempererat persaudaraan dalam perjuangan anak negeri, dan di lokasi tersebut Bung Hatta beristirahat sejenak dan mengagumi keindahan pemandangan alam di daerah tersebut, dan akhirnya lokasi tersebut menjadi salah satu napak tilas sang proklamator ini.
Usai berphoto dan berpamitan beberapa jenak, akhirnya gw pun mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk keramahan dan kebaikan yang telah diberikan ke gw. Dan kembali gw bersama Panjul menyusuri jalanan untuk kembali menuju kota Medan dengan perkiraan waktu tempuh adalah sekitar 9 jam.

Kota pertama yang akan kami tuju adalah kota Subulsalam, kota yang menjadi perbatasan antara propinsi Sumatera Utara dengan propinsi NAD. Antara kota Tapaktuan menuju kota Subulsalam ini, di awali dengan pemandangan pesisir pantai dan kemudian mulai masuk ke daerah perbukitan dimana kota Subulsalam berada. Sekitar pukul 15.00 sore hari akhirnya gw sampai di kota ini, sempat rehat sejenak sekaligus mengisi perbekalan bensin untuk si Panjul. Kejadian tidak mengenakkan pada saat di pelabuhan Ulee Lheue beberapa hari lalu kembali terjadi di SPBU tempat gw mengisi bensin ini, beberapa pengendara roda dua setempat saling menyelak antrian dengan santainya, gw sendiri terpaksa pasrah di selak satu kali dan hampir satu kali lagi setelah akhirnya gw merentangkan kaki gw di kiri dan kanan motor, entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu.
Usainya, si Panjul pun kembali meluncur dengan santai memasuki hutan di daerah pegunungan bukit barisan yang berkabut, melewati perbatasan propinsi, dan akhirnya jalanan mulai menurun kualitasnya. Sesuai dengan arahan beberapa kawan sebelumnya, jika nanti gw memasuki daerah dengan kondisi jalanan kurang baik, maka itu artinya gw sudah memasuki wilayah propinsi Sumatera Utara, analogi yang gw rasa cukup benar dan gw alami sendiri.

Beberapa pemukiman penduduk mulai terlihat setelah perbatasan propinsi gw lewati. Jalanan yang berlubang dan berlumpur, serta kontur jalanan berliku naik turun dan berpepohonan rapat, dimana sebelah kiri kami umumnya adalah tebing hijau berpohon lebat sedangkan sebelah kanan kami umumnya adalah jurang yang rawan dengan longsor di beberapa titik jalan yang kami lewati, dan itu adalah pemandangan yang kerap kami temui sepanjang perbatasan sampai dengan kota tujuan kami berikutnya, yaitu kota Sidikalang.
Beberapa saat sebelum memasuki pertigaan besar kota Sidikalang dan kota Dairi, yang menjadi akhir dari perjalanan panjang melintasi daerah bukit barisan sebelumnya dari kota Subulsalam, gw mulai merasakan keanehan pada si Panjul. Sahabat gw ini mulai agak malas-malasan berhenti. Cek sana sini dan ternyata rem depan tidak berfungsi normal lagi karena minyak rem nya habis. Dan selidik punya selidik ternyata selang rem di bagian atas agak rembes karena bocor. Duh.

Berjalan perlahan-lahan sambil mata jelalatan mencari bengkel, dan akhirnya si Panjul pun di rawat sejenak di sebuah bengkel kecil disisi jalan yang menuju kota Dairi. Mengisi ulang minyak rem pada wadahnya adalah jalan satu-satunya yang bisa gw lakukan saat itu, sambil berharap semoga cukup untuk bisa sampai ke kota Medan. Melakukan cek akhir untuk pengereman depan dan ternyata cukup baik, dan akhirnya kami kembali melaju melewati jalan yang semakin kurang baik kondisinya melewati kota Dairi menuju kota Merek. Di antara kota Dairi dan kota Merek ini, terdapat banyak daerah wisata, baik wisata rohani seperti Taman Iman, maupun wisata keluarga semisal adalah Simalem Resort.
Dan akhirnya kota Merek pun terlewati, dan kota tujuan berikutnya adalah Brastagi. Memasuki kota Brastagi, hari sudah mulai gelap. Perlahan kami pun memasuki kota Brastagi di sambut dengan hujan rintik-rintik. Dan memasuki daerah Penatapan yang kerap gw datangi kalau sedang ingin berjalan-jalan sejenak, hujan mulai turun dengan derasnya. Karena keinginan untuk lekas sampai di rumah dan jarak hanya tinggal kurang dari 50km dari posisi gw saat itu sampai ke rumah, gw pun memutuskan untuk terus melaju.
Hujan yang sangat deras serta adanya kabut yang cukup tebal saat itu mengurangi jarak pandang serta kecepatan laju si Panjul sampai dengan hanya maksimal 30kpj. Batu-batu kecil yang mengikuti aliran sungai dadakan di beberapa titik jalan yang berliku dan kurang baik kondisinya membuat gw harus selalu waspada dan kerap menurunkan kaki untuk menjaga keseimbangan. Dan final dari ujian di beberapa kilometer menjelang sampai ke daerah Sibolangit adalah adanya sebuah pohon yang tumbang dan menutupi sepanjang lebar jalan sehingga tidak ada satu pun kendaraan yang bisa lewat, juga pohon tersebut menimpa kabel listrik sehingga putus, dan sepanjang jalan tersebut pun menjadi gelap gulita tanpa penerangan kecuali lampu-lampu kendaraan di antara derasnya hujan. Mengikuti laju kendaraan roda dua lain, gw pun akhirnya bisa melewati pohon tumbang tersebut setelah sebelumnya harus bermanuver di atas lumpur yang menggenang di sisi luar dari badan jalan dan di bawah kabel listrik yang tertimpa pohon. Dan kembali kami melaju perlahan sampai di daerah Pancur Batu dimana hujan sudah mulai reda.
Dan akhirnya kami pun memasuki kota Medan dan sampai di rumah dengan selamat. Gw langsung menurunkan barang-barang yang di angkut oleh si Panjul ke dalam rumah, memarkirkan si Panjul di tempat yang kering, gw sendiri lalu bersih-bersih badan, dan segera beristirahat sebisanya karena badan pun sudah terasa sangat letih. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, akhirnya gw bisa melewati perjalanan yang cukup berat beberapa hari ini.

Perjalanan kali ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  • Allah SWT, yang telah memberikan banyak rezeki serta nikmat keselamatan sehingga gw bisa melakukan perjalanan kali ini
  • Rekan-rekan di pulau Weh yang terlibat dalam seluruh prosesi Bakti Sosial di Tugu Nol Km, terutama kepada Ka Ita dan Bang Kidal
  • Rekan-rekan YSC NAD dan Milys Aceh, tersebut : pa Sofyan, oom Eka, Tante Liza, oom Ichwan, oom Herry, oom Vijey, dan lain-lain yang mungkin belum tersebut namanya.
  • Rekan-rekan YVC Tapak Tuan, YVC Meulaboh, dan YVC dalam lingkup Propinsi NAD yang mungkin belum tersebut, terima kasih yang sebesar-besarnya.
  • Rekan-rekan HTCT, terutama oom Berry, terima kasih yang sebesar-besarnya.
  • Rekan-rekan di Blackberry Group “Batere Abis” yang selalu menyemangati, memantau, dan membahagiakan gw sepanjang perjalanan, “kaliyan emang gilak!!! .. :p”
  • Rekan-rekan Milys dan Gelys dimanapun berada atas dukungan semangatnya
  • Rizal, Septian, Iman Kecil, Iman Bengkel, Dedi, dan rekan-rekan kerja lain di Medan yang selalu memantau keberadaan gw sepanjang perjalanan
  • Dan pihak-pihak yang mungkin belum tersebut dan terlupa, terima kasih sangat.

— Mohon maaf yang sedahsyat-dahsyatnya jika ada salah ketik, dan mohon diinfokan untuk perbaikan, trims —

3 Responses to Baksos Tugu Nol KM dan Keliling Propinsi NAD : 22 – 27 April 2011

  1. hardrijder says:

    mantaaaff..!! \m/
    msh cuma dlm rencana bwt gazz k sana.. (**l!)

  2. Eko Probo says:

    postingnya mantab mas bro, pengen touring kesana belum kesampaian aja nih

    regards / MiLYS 709
    http://ekoprobo.wordpress.com

  3. roundtire says:

    baru baca!!!! keren kang, semi-brakeless lah ya.. gara2 selang bocor😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: